On the Move!

July 28th, 2008 by ariessetya

I move to my new blog at ariessetiadi.multiply.com.

Poignant

May 10th, 2007 by ariessetya

Halo, apa kabar?

 

Sudah lama saya tidak menulis diblog ini, meski saya kurang
yakin apakah blog ini dibaca orang atau tidak. Selain susah untuk mengakses
friendster dari kampus ekonomi tercinta, saya juga baru disibukan dengan
permohonan bantuan Dari seorang dosen untuk menerjemahkan 5 modul (setara 400
halaman A4 jika diprint), dan menulis beberapa tulisan untuk mendulang sedikit
rupiah hehehe

 

Baru-baru ini saya pergi ke warnet, karena wifi di kampus
tercinta entah kenapa sulit untuk diakses. Setelah selesai men-download
beberapa data dan lagu terbaru dari GE, saya memindahkannya dari computer ke
flashdisk. Namun ternyata ada satu file dalam bentuk notepad yang ikut
terambil. Saya baru sadar ketika membuka flashdisk saya di notebook saya. Isi
file tersebut saya baca, mungkin balasan email yang dialihbentukan dalam
notepad. Berikut ini saya lampirkan, dengan beberapa editan untuk melindungi
identitas:

___________________________________________________________

Pr***** S******* <ri***_ad***@yahoo.co.id> wrote:

selamat malem adikku s****….ini, aku tulis di sela2 ku
kerja malem begini,,, aku habis pulang dr solo dik, kebetulan liat warnet, eh
jd mampir deh.

Banyak pertanyaanmu yg rupanya harus aku jawab ya dik….
terimaksih deh….sudah mengangkat aku sebagai psikolog….hehehehe.

Sebelumnya aku mau ngenalin diri aku juga deh….

1. namaku Pr***** S*******, panggilanku dr kecil sampai
gdenya segini ialah K***’.

2. Aku dulu
kuliah di Fak. Ekonomi UMY, lulusan thn 1993, jelek2 bgini aku srjana lho, tp
sayangnya aku ga begitu suka dgn ke sarjanaan ku itu, what for… kalo akhirnya
cuma jadi orang jalanan begini, hehehe.

3. Aku menikah di
usia 29 thn, istriku lebih tua 5 thn drpada aku, terus terang aja neh….buat
apa malu kan?

4. Aku kerja di
taksi smenjak tahun 1994 sampai sekarang, kurang lebih hampir 13 thn dik, bosen
ga seh…?

Mungkin itu dulu,
lain kali aku tambahkan kalo kamu tanya, dan mungkin pas aku ingat, hehehehe

Aku mau njawab
pertanyaan pertamamu dik…mengenai H****….oke satu demi satu ya….

·  Mz… Apa y** salah jika sampai saat ini y**
msh sayang sm dia mezq sedikit dan selalu ingin tahu kabarnya.

· Sekarang Y** kehilangan kontak dngny.
Padahal aq dh cb hub dia, nmrny dh gnt dan aq ty temen g da yg th. Apa Y**
harus main kerumahnya? (tpi y** g mo mn mz)

· Y** kangen ma nasehat-nasehatnya…..
Y** g berharap bnyk. Y** cm pengin ketemu Dia. Tp bgmn crnya….

- kamu ga salah
dik, kalo kamu masih sayang ma dia, karena kasih sayang bisa untuk siapa aja,
aplagi buat orng yg pernah dekat dgn kamu…

- buat apa kamu
ke rumahnya, karena aku lihat sudah tidak ada urgency nya lagi, apalagi km
bilang sendiri kalo km sudah tidak mau main lg ke rmhnya, jadi segera bilang
tidak untuk dirimu sendiri, be strong oke…

- supaya tidak
ngelantur, nasehat bisa kita dapatkan dr siapa ja, yg ada di sekitar kita, oke,
seraplah, jadikan sebuah ilmu yang berguna bagi hidup dan kehidupanmu kelak…

H**** adalah
salah satu masa lalumu, jgn terlalu sering menengok ke belakang, hiduplah hanya
untuk masa depan, tentukan tujuan, buatlah arah, capailah itu dengan sekuat
tenaga, oke…

Pertanyanmu yg
selanjutnya adalah…

· Mz… Adek mo Tanya bagaimana caranya
mengembalikan hubungan antara H**** dan S**** supaya jika ketemu baik2 saja. Terutama
H****nya, padahal Y** dah berusaha agar mereka g canggung. Kemrn aj Y** ty ma S****
“ Km th g gmn Kbrnya H****” Dan Dia menjawab “ Emang pernah kumpul sm mz mu
itu, malah Y** disuruh ty ma yg lain… Berarti keadaan mereka belum normal
banget kn sampi sekarang.

·  Gimana mz..padahal mereka sahabat2ku. Aq
g ingin maslh dulu2 msh ad di hati mereka….

Soal antara h****
dan S****, itu adalah urusan mereka sendiri, sudah bukan jadi yang harus kamu
pikirkan lagi, karena mereka berdua, sudah sama dewasa sebagai laki2…oke,
bukan jadi proritas lagi, biasakan utk mnggunakan logika yang paling
canggih…hehehe

Mereka tetap
jadi, sahabatmu yg terbaik, selama mereka, juga mau menjadikanmu sahabat
mereka, itu aja…

just simbiosis
mutualisma…oke….

Sebelum dilanjutkan, mungkin saranku ini sangat mudah untuk di ucapkan,
tapi sulit untuk dilakukan, itu wajar, karena belum pernah kamu lakukan,
mulailah melakukan walaupun hanya setapak demi setapak, setuju kan dik? Don’t
think, just do it….Sadarkan mereka dan juga dirimu sendiri, bahwa cinta itu
tidak harus memiliki, tapi kita tetap harus memiliki cinta untuk orang2 yang
kita kasihi sampai kapanpun juga…

 

Selesai
membacanya, saya merasakan poignant-kalau orang Perancis bilang. Semacam sakit
mual di ulu hati saya. Orang Sunda bilang seu-eul, kahulag. Saya tidak mengenal
Pr***** S*******, Y**, I****, ataupun S****. Tapi ada dua alasan. Pertama: Saya
tercengang dengan kenyataan seorang sarjana ekonomi menjadi supir taksi. Ini
bukan cerita baru bagi saya. Salah satu supir keluarga di kolega saya juga yang
bertitel Drs. Namun itu lain soal karena universitas yang diambilnya merupakan
universitas tidak ternama, tapi untuk kasus Pr***** S******* ini mengejutkan.
UMY saya tahu bukan universitas sembarangan.
Kok bisa seorang sarjana menjadi supir taksi
selama 13 tahun tanpa kemajuan…. Hmmhhh….. saya jadi takut dengan nasib
saya sebagai sarjana di masa depan.

Kedua: Saya tidak
dapat membayangkan bagaimana Pr***** S******* dan Y** bisa bertemu. Apakah
seorang penumpang dan supirnya. Saya jadi teringat ucapan Joko Anwar ketika
saya menjadi salah satu volunteer dalam pemutaran premiere Janji Joni di Jogja.
Dalam sebuah obrolan, Joko bilang kalau scene Joni dan supir taksi (diperankan
Barry Prima) pernah terjadi pada dia. Joko bilang: ”ngeselin banget kalau ada
supir taksi yang bawel!”. Em, saya sendiri justru ada di posisi bersebrangan.
Meski bukan pelanggan setia, tapi saya cukup sering menggunakan taksi untuk
kegiatan yang saya lakukan di malam hari di Jogja (secara saya belum punya
kendaraan sendiri dan tidak ada transportasi umum massal malam hari). Mulai
dari menghadiri press conference, dinner dengan interviewee, pameran, hingga ke
stasiun tugu untuk mudik. Setiap perjalanan dengan taksi, selalu saya mengajak
si supir bercerita. Ada yang bercerita tentang anaknya yang jadi juara kelas
dan dia berharap anaknya dapat membantu nasib keluarga di masa mendatang.
Ada pula sesama orang sunda yang sudah betahun-tahun
tinggal di Jogja.

Saya takut, sedih
(membaca cerita Pr***** yang seolah menyerah terhadap nasib), kagum (dengan
kebaikan hati Pr***** untuk mau menasehati), takut (dengan masa depan saya),
gembira (dengan keadaan saya yang lumayan bahagia), …. speechless. Poignant.

 

Jogja,

28 03 07

Nagabonar (jadi) 2

March 29th, 2007 by ariessetya

Torasudiro
Niatnya si tadi mau nonton Jakarta
Undercover, tapi setelah sampai di
bioskop, taunya Nagabonar (jadi) 2 sudah
tayang. Saya pun akhirnya "terpaksa"
nonton si Tora.

Meski belum pernah nonton Nagabonar
(pelem jaman zebot itu), tapi lumayan
bisa dapat gambaran melalui film ini. Di
film ini fokusnya memang jadi 2. Cerita
si Nagabonar yang udah uzur plus si
Bonaga (anak kelima Nagabonar, tapi
satu-satunya yang masih hidup).

Lebih dari sekedar lucu, tapi pada saat
yang sama juga mengharukan. Belum lagi
cerita tentang nasionalisme yang dikemas
dalam humor yang membuat perut
terkocok-kocok (untung tidak muntah!).
Belum lagi satire mengenai kehidupan,
religi, dan percintaan digeber
abis-abisan sepanjang film ini.

Buat saya, film ini cocok untuk jadi
pelarian sekaligus penghiburan dan
pencerahan. Lebih menghibur dari Janji
Joni dan lebih mencerahkan dari Gie. Dua
jempol ke atas untuk Nagabonar (jadi) 2.

-E-

Terima Kasih Tuhan….

February 13th, 2007 by ariessetya

Teman-teman saya bilang, hari ini adalah hari kasih sayang… hmmhh, haruskah hanya dinyatakan dalam satu hari saja? Baiklah, tha will be oke, jika memang perlu sebuah moment sebagai pengingat bagi pikiran kita (atau hanya saya!) yang kadang terlalu disibukan dengan pretelan-pretelan hidup yang tidak terlalu penting. Oleh karena itu, di hari yang penuh cinta ini, saya mau menyatakan cinta kepada Tuhan. Untuk semua berkah dan rahmat yang Tuhan berikan. Terima kasih Tuhan….! Terima kasih untuk sentilannya siang ini… Best regards, Aries!

Le Grande Voyage

January 3rd, 2007 by ariessetya

Seeing a magnificient universe such as that makes me feel like insignificient speck.

Duration: 108’ (19.00-20.48 WIB)

Date: Januari 3, 2007

Setting: LIP Yogyakarta

Cast: Aries

Akhirnya, setelah sempat melihat resensinya di majalah a+, kesampaian juga cita-cita untuk menonton film Le Grand Voyage [directed by Ismael Faroukhi]. Entah kenapa, meski hanya membaca resensinya, saya merasa film ini akan menjadi film yang bagus. Mungkin kalimat “perjalanan seorang ayah dan anak” pada resensi itu melekat di pikiran saya. Maklum, saya juga pernah mengalami.

Film ini bercerita tentang seorang anak, Reda [roled by Nicolas Cazale], yang diminta ayahnya [roled by Mohamed Majd]untuk mengantarkannya dari Perancis ke Saudi Arabia dengan menggunakan mobil tua, untuk menunaikan kewajiban sang ayah sebagai muslim-naik haji. Tentu bukan perjalan yang datar tanpa konflik. Perjalanan yang dilalui mulai dari Perancis Selatan, Italia, Turki, Yugoslavia, Lebanon, Syria, dan negara-negara lain hingga akhirnya Saudi Arabia melibatkan konflik antara sifat keras kepala Reda dan sikap diam sang ayah.

Selain itu, Ismael juga menyisipkan konfik antara mereka dengan orang-orang yang mereka temui di perjalanan. Seorang ibu yang menumpang tanpa pernah bicara, Mustapha sang calon haji yang berpoligami sekaligus mabuk-mabukan, atau pengemis di gurun pasir. Tak jarang, konflik sisipan ini menambah parah jarak di antara mereka. Namun kalau saya lihat, konflik sisipan ini justru menjadi jembatan antara mereka berdua untuk kemudian membuka komunikasi. Kurangnya komunikasi adalah satu hal yang menjadi sumber konflik internal mereka sendiri. Satu hal yang juga pernah (dan mungkin sedang) saya alami.

Konflik internal Reda dan sang ayah memang lebih dikarenakan tidak Le_grand_voyage adanya komunikasi. Saya pikir ini masalah lintas generasi yang menimbulkan kesenjangan-generation gap. Reda adalah peran anak muda yang kadang merasa sok tahu segala hal tentang hidup (*gue banget!*). Coba perhatikan salah satu ungkapan sang ayah terhadapnya: “you know how to write and read. But you know nothing ‘bout life!”. Sementara sang ayah adalah refleksi generasi kolot yang TERLALU resisten terhadap perubahan zaman. Hal ini ditunjukan ketika sang ayah membuang telepon genggam milik Reda.

Rekonsiliasi mulai terbina setelah banyak konflik besar mereka lalui seiring perjalanan sejauh 3000 mil tersebut. Terlihat sikap keras kepala Reda melunak dan sikap diam sang ayah mencair ketika Reda bertanya pada ayahnya di satu saat. Sang ayah yang sedang bertayamum kemudian menghampiri Reda, duduk di sebelahnya, dan membuka percapakan (meski sangat singkat).

Satu saat, Reda terbangun di tengah gurun pasir dan mencari sang ayah yang hilang. Sang ayah kemudian datang dengan domba-domba gembalaan dan pergi melewatinya tanpa mengacuhkannya. Reda memanggil-manggil sang ayah namun sang ayah terus pergi. Reda kemudian terserap oleh pusaran gurun pasir. Dan, Reda ternyata bermimpi. Ketika ia terbangun, sang ayah sedang melaksanakan shalat.

Film ini memang kental dengan suasana Islam dan kehidupan penganutnya. Digambarkan bagaimana seorang calon haji bisa begitu marah dan hampir saja tidak mau memaafkan anaknya yang melakukan kesalahan. Digambarkan pula sng anak-yang sama sekali tidak religius- mengingatkan sang ayah bahwa Islam juga memuat ajaran untuk memaafkan. Bagi saya, cerita ini mengingatkan bahwa kita membutuhkan satu sama lain untuk saling mengingatkan. Because nobody’s perfect. So do I.

(*kalau Aa Gym membaca blog ini, beliau juga mungkin mengirim comment: Aa setuju AriEs. Kita semua manusia punya khilaf. Aa juga manusia. = D*)

Kembali ke film. Singkat cerita mereka sudah mulai bisa berekonsiliasi ketika sampai di Saudi Arabia. Di sebuah terminal bus menuju Mekah mereka berpisah. Reda menunggu kepulangan sang ayah beberapa hari kemudian. Namun saat rekan-rekan sepemberangkatan sang ayah pulang, sang ayah tidak ada dalam rombongan. Ia terus menunggu hingga malam. Sampai kemudian, kejadian dalam mimpinya seolah menjadi nyata. Ada seorang tua dengan domba-domba gembalaan melewatinya. Reda mencoba memanggilnya, namun ia tidak diacuhkannya.

Reda kemudian menyusul hingga Mekah. Film ini menggambarkan suasana Mekah ketika musim haji berlangsung, dan Reda ada ditengah-tengah mereka. DItunjukan betapa kecilnya manusia ketika berjuta-juta umat mengelilingi Kabah. Seeing a magnificient universe such as that makes me feel like insignificient speck. Reda terlihat menyelinap di antara jejalan jemaah hingga akhirnya ditangkap karena dianggap membuat keonaran (ia masih menggunakan T Shirt dan jeans saat jemaah lain hanya menggunakan pakaian ihram).

Reda kemudian dituntun memasuki kamar mayat jemaah. Satu persatu kain kafan dibuka, hingga kemudian ia menemukan ayahnya di sana. Scene ini menjadi puncak dari film ini. Menyaksikan seorang anak yang begitu stubborn menangis di samping jenazah sang ayah. Sekali lagi, ditunjukan betapa kita selalu memerlukan orang lain-bahkan orang yang selama ini bertengkar dengan kita.

Reda kemudian diceritakan pulang dengan menjual mobilnya. Namun perjalanan itu telah membuahkan perubahan dalam dirinya. Sosok anak muda yang keras kepala itu kini menjadi dewasa. Scene terakhir yang ditunjukan adalah sesaat Reda sebelum naik taksi, ia memberi sedekah pada seorang peminta-minta di jalanan (padahal ia pernah bertengkar hebat dengan sang ayah ketika sang ayah memberika sedekah pada pengemis di gurun pasir).

Ketika film usai dan tempat pemutaran menjadi terang, tampak semua penonton (lebih kurang 30 orang) tampak menangis-termasuk saya = D. Barangkali karena moment-ya tepat, saat orang tua saya juga sedang berhaji saat ini. What an eerie sensation….. I grapple with my (recently) greatest fear: loneliness….!

Regards,

Aries

Resolution Theory

December 30th, 2006 by ariessetya

I love the new year season. Well, call me sentimental. But, the recalling memories just rip at my heartstrings. I wonder what this next year will hold for me?

Tahun Baru!

Selain ikut serta dalam hingar bingar pesta beserta trompet dan Fireworkskembang apinya, membeli Agenda baru adalah rutinitas yang mutlak dilakukan terkait acara Tahun Baru. Sebundel kertas pengingat tempat mencatat jadwal meeting dengan si Bos, olahraga, janji dengan rekan sekelompok, rencana liburan, nomor telepon narasumber (atau sesorang yang baru saja ditemui saat makan siang di Taman Sari Foodcourt?!), dan lain-lainnya. Dan biasanya berderet-deret rencana positif mulai dituangkan sebagai target operasi tahun depan. Resolusi.

Agenda lama yang berisi seratus resolusi yang dituliskan awal tahun lalu mulai dievaluasi dan dinilai. Bagaimana hasilnya? Bisa jadi terpenuhi, bisa tidak. Sudahkah kadar suicidal tendency berkurang? Berbahagialah jika iya. Jika tidak? Maka ini adalah saat yang tepat untuk menuliskan kembali seratus resolusi itu.

My_wrist Entah kenapa tahun baru seolah memiliki spirit tertentu untuk memulai hari baru. Rencana baru. Perilaku baru. Trend baru. Intinya, perubahan. Seolah menjadi momentum tepat dalam mengambil suatu keputusan. Saya sendiri berjanji untuk lebih banyak membeli dan membaca buku yang dapat menjadi asupan otak saya (sekaligus referensi skripsi). Saya juga berjanji untuk mengurangi kuantitas sayatan silet di pergelangan tangan saya (sebelum saya nanti meninggal wajar namun dianggap pecandu narkoba!). Saya janji untuk berubah.

Tak mudah memang. Terlebih jika harus meninggalkan zona nyaman. Euro_1 Orang-orang di 12 negara Eropa mengganti mata uangnya dengan Euro pada 1 Januari, 3 tahun lalu. Bukan tanpa masalah, karena perlu adaptasi. Mengurangi rokok konon bisa membuat mulut terasa asam. Membaca buku lebih banyak berarti membuat saya harus menyediakan lebih banyak kopi. Ada resiko memang. Tercapai atau tidak? Just wait and see! Tapi setidaknya saya menuliskannya pada Agenda baru saya sebagai pengingat.

Tahun baru adalah sebuah pijakan untuk bisa lebih maju. One step ahead, at least. Many steps, better. Posisi di kantor harus promosi lagi (kapan Bos, saya jadi redaktur madya?). Kurangi minum minuman bersoda. Kurangi begadang (kecuali ada deadline mendadak!). Ngobrol gak jelas dibatasi hanya pas weekend saja. Eitsss…..apa nggak kebanyakan? Gimana kalau semuanya nggak tercapai? Ini semua bergantung pada niat, bung. When there is a will, there is a way. Jadi, kenapa tidak mencoba.

Yang pasti, ada satu tanggal yang patut diberi tanda dalam Agenda baru saya. Hari Ulang Tahun. Untuk sekedar mengingatkan saya, bahwa menjalani tahun depan memerlukan lebih pertanggungjawaban. Saya bertambah dewasa (eufemisme untuk kata tua). Saya bertaruh dengan jarum jam yang terus berputar. Saya bertaruh dengan tangal dan bulan yang terus berjalan. Saya bertaruh dengan usia. Sebelum saya menyesal karena harus menuliskan kembali seratus resolusi yang sama pada Agenda yang akan dibeli di awal tahun 2008 nanti.

Selamat Tahun Baru!

[Aries]

Jogja Welcome You

December 22nd, 2006 by ariessetya

Jogja Welcome You

For more infos, please click on the link of Where To Go in the left side of this blog.

Dscn3485 Dscn3522_1

Humh..miris rasanya ketika kemarin pagi, saya membaca Kompas dan menemukan iklan pariwisata Turki. Dengan slogan lugu dan tanpa basa-basi, Turki menuliskan: "Turki menunggu kunjungan Anda!" atau dalam situs resminya (www.gototurkey.co.uk) ditulis "Turkey: Welcome You!).

Lalu kenapa saya miris?

Sebagai mahasiswa ekonomi (jurusan ilmu ekonomi pula), saya mempelajari perekonomian Turki khususnya gonjang-ganjing mata uangnya yang begitu lemah. Dan hey, sekarang Turki sebegitu percaya  diri mengiklankan negaranya untuk dikunjungi. Situs yang menjadi informasi utama itu pun dirancang dengan muatan yang begitu mengundang:
-Play Golf in Turkey
-Yatching
-Magical Wedding in Turkey
bahkan Pamuk (pemenang Nobel Sastra) pun ikut didengung-dengungkan dalam situs tersebut.

Dan Indonesia? Jogja?

www.indonesia.or.id
-Could not locate remote server

www.budpar.go.id
-berisi berita-berita (meski terkait pariwisata) namun sangat kurang memberikan informasi mengenai pariwisata. Lagipula saya pikr sulit untuk menanamkan kata budpar ditelinga orang luar negeri.

www.indonesiatourism.com
-masih kurang atraktif. Yang saya lihat justru iklan dari Telkom, Bank Muamalat, Bank Danamon,…OMG!

www.indonesia-tourism.com
-Nice! Pada halaman pertama menyuguhkan peta Indonesia lengkap dengan link di setiap nama tempat yang kita pilih. Saya coba klik Yogya. Humh…lumayan memberi informasi, tapi sayangnya dikemas mirip buku sejarah…

www.yogyes.com
-Nice! Saya pikir harusnya situs memang dibuat atraktif seperti ini. Untunglah, ketika saya mencoba mengetikan "Yogyakarta+tourism" di google, situs ini ada di urutan pertama.

Sekarang, saya pikir masalah komunikasi (ke luar) dan pengelolaan antar pihak terkait agar pariwisata ini bisa berkembang.

Sebagai catatan: saya pernah mendapatkan 4x pengalaman tidak mengenakan terkait pariwisata di Jogja. Pernah, ketika mengunjungi Tourism Information Center di dekat kepatihan Maliboro, saya dan Turis yang saya dampingi justru disambut muka masam petugas yang (sepertinya) terganggu dari keasyikannya menonton TV.

Masalah keramahan pedagang di Beringharjo pun sempat disinggung turis Itali yang saya dampingi ketika melihat seorang ibu hamil yang dimarahi pedagang hanya karena ia berdiri di depan kiosnya, padahal si ibu baru saja belanja dari si pedagang. Dari intepretasi saya terhadap bahasa jawa yang dilontarkan dengan keras terhadap si ibu, si pedagang berkata: Jangan menghalangi dagangan saya dong. Kalau berdiri di situ lama-lama kan barang saya ketutupan. Nanti yang lain gak mau beli. So, Yogya as the city of tolerance?! Get real! Saya bisa mengerti jika persaingan usaha, kesulitan ekonomi, dan harga beras yang tinggi bisa menaikan tekanan darah.

Tapi kalau sudah gini, siapa yang rugi? Kapan city of tolerance itu akan terbukti? Ya sudah lah… karena Jogja kota budaya, saya mau berpuisi saja: biarkanlah waktu yang akan menjawabnya!

Recap V-TwoPhat BuBar!

December 14th, 2006 by ariessetya

Pernah membayangkan, bagaimana rasanya menjadi ketua kelas dari sebuah kelas yang berisi 42 (dari 43 murid) enerjik, kelebihan adrenalin, dan kekurangan tatih tayang. Yang setiap hari sabtu, pulang jam 11.00 (seharusnya jam 14.00) trus jalan-jalan ke Kali Kuning atau Prambanan. Yang setiap kelas Kimia langsung jadi sekumpulan anak-anak sariawan (nggak banyak ngomong!). Yang pernah membuat seorang guru membanting buku dan menangis di depan kelas. Yang mengecat tembok belakang kelas dengan gambar Gorillaz, Bart Simpson, dan Samurai X. Coba bayangkan?

Bubar

Sang ketua kelas harus mencari akal bulus, 1001 alasan, dan 1002 perjanjian untuk bernegosiasi dengan wali kelas dan kepala sekolah. Sang ketua kelas juga harus rajin berdiskusi dengan guru sosiologi untuk bisa menghadapi anak-anak yang enerjik tadi. Sang ketua kelas harus mendekati anak-anak enerjik tadi secara personal untuk mendengar keluhannya dan mencoba mengajak bekerja sama untuk menciptakan kelas yang sedikit agak tertib. Pada saat yang sama, sang ketua kelas harus menyelesaikan 2 buah penelitian, ikut berlomba mewakili sekolah ke Jakarta, latihan dan ikut lomba debat bahasa inggris, dan menjadi anggota MPK. Bisa membayangkan rasanya? Jika tidak, tanyakan saja pada saya, karena saya si ketua kelas “so sial” itu.

Bulan puasa lalu, dimulai dengan keisengan ngobrol-ngobrol dan Yahoo Messenger-an akhirnya berkumpul lagi lah anak-anak enerjik tadi. Di angkringan Sebul (yang bikin nasi gorengnya lammmmmaaaaaaa banget dan minumannya dikiiiiiiiiitttttttt bbbbaangggettt! Ga tau apa, adzan tuh udah setengah jam yang lalu!). Ada yang berubah, ada yang tidak. Tapi justru jadi seru mengingat masa jahiliyah….!

  Cimg0772

ket: TwoPhat = Kelas 2.4

Recap IV-UBW: Unilever Brain Wash oopppsss Business Week!

December 14th, 2006 by ariessetya

Hidup Buaya Darat! Hidup Food4Soul Company!

Sebuah workhop, training, business simulation, dan business game yang  menginspirasi hidup. 1-6 September yang penuh kegilaan. Tak perlu saya ceritakan, cukup lihat gambar-gambar berikut ini!

Ubw A_dooor

Img_0133

Recap II-Panic! at the Jogja

December 14th, 2006 by ariessetya

Ini saya ingat betul detailnya. Tapi akan saya tuliskan singkat saja. Hari Sabtu, 27 Mei 2006. Tanpa ada firasat sebelum-sebelumnya. Tiba-tiba. Gempa!

Di area terdekat dengan kos saya tidak ada kerusakan yang terlalu parah (‘Hanya’ ada 2 orang mahasiswa yang mengalami patah tulangdi tangan dan lengan karena meloncat dari lantai 2 kost-nya. Panik!). Namun data terakhir mencatat, lebih kurang 200.000 orang tewas dan lebih dari 6.000 rumah roboh.

Saya sempat beberapa kali melakukan peliputan (terutama ketika Presiden berkantor di Istana Agung, Yogyakarta). Banyak bantuan datang, banyak yang membantu dengan ikhlas, banyak yang mementingkan peliputan media atasan bantuan, dan banyak pula yang hanya mengatasamakan bantuan. Menyedihkan memang….

Untunglah banyak juga mahasiswa yang datang membantu dengan ikhlas. Terutama mereka yang datang pada hari-hari pertama bencana [dan bukan mereka yang mendadak menjadi relawan HANYA demi terpenuhinya syarat Kuliah Kerja Nyata!].

Gempa_07_1 Ieandien_01

Iedinda Ietomy_wika

Relawan_02