Bermain Sabun
Saturday, April 29th, 2006Hi guys, coba ingat kapan terakhoi kali bermain seperti ini: Mengambil sabun dengan tangan kanan. Memberi sedikit air. Membuatnya berbusa. Lalu ibu jari dan telunjuk membentuk lingkaran dengan diameter lebih kurang 5 cm. Dan…
Yeah, i know what you did last…. weekend?
[to be cont]
Saya sedang ngobrol tentang kemungkinan pekerjaan saya sebagai kontributor lepas sebuah majalah.
‘Majalah apa?’ tanya seorang teman perempuan (dengan pakaian yang menunjukan identitas agama tertentu).
‘SOAP,’ jawab saya.
’soup?’
‘Es-o-a-pe,’ jawab saya lagi. ‘Sabun.’
‘Majalah "dewasa" [baca: porno]?’
Belum saya menjawan, dia memanggil seorang teman pria (dengan nama yang menunjukan identitas agama tertentu) dan berkata: ‘Si Ries kerja buat majalah sabun. "Dewasa".’
Teman yang pria menanggapai: ‘Ah, urusan "dewasa" gw gak ikut-ikutan!’
Saya meresapon ucpan mereka dengan nada tinggi: ‘Tuh kan, yang butuh UU APP tu lo lo pada. Denger soap aja udah mikir "dewasa". Ngeres!"
Jujur saja, saya jadi heran dengan sekelompok orang yang selalu apriori. Majalah ini bernama SOAP diambil karena beberapa content-nya memakai istilah seperti bubble, foam, sparkling, atau soap bar. Kok dibilang "dewasa"?
Saya jadi teringat ucapan seorang teman saya yang sudah pernah membaca majalah P yang banyak dihujat dimana-mana: ‘Majalah P tu isinya tulisan mulu. Lebih gila majlah F. Covernya F malah lebih berani. Tapi kenapa yang diserang cuma P?!’
It seems that most of us JUDGE a book by its cover. Dan herannya lagi, banyak yang berani menghakimi bahkan hanya mendengar judul -tanpa melihat- covernya. Sama seperti teman saya tadi. Denger sabun aja udah mikir "dewasa". Padahal dia perempuan pula (main sabun juga ya?). Bagaimana kalau majalah itu bernama BANANA dan saya berkata PISANG? Udah mikir "dewasa" juga? Kalau bernama SUTRA? AYAM? atau APARTEMEN (mirip penthouse khan)?
Untuk apa ada RUU APP kalau sudah terlanjur banyak kata mengalami peyorasi karena dihakimi berbau "dewasa". Bukankah reaksi pikiran jauh lebih dahsyat dibanding reaksi mata? Saya sendiri sebelum bertemu dengan teman tadi tidak terpikir "dewasa" ketika mendengar nama majalah itu SOAP. Lalu siapa dong yang ngeres?
Saya bukannya benci RUU APP, tapi dibanding selalu berdebat mengapa tidak saling introspeksi diri.
[cont]
Dan… ketika lingkaran jari tadi terisi selaput sabun, tiuplah! Sebuah gelembung akan terbentuk, membesar, dan ‘Plop!’. Pecah…
MAsih ingat permainan ini? Yeah, I still know what we did when we’re a child. It’s bout a decade ago for me.
Bunyi ‘Plop!’ tadi bisa saja berubah menjadi ‘Plak!’ jika reaksi setelah membaca message atau cerita diawal tadi dengan berpikir "dewasa". Sebuah tamparan mendarat di pipi. Jika tidak, lucky you! Coz you must still have otak bebas pikiran ngeres. Sama seperti otak anak kecil yang bebas bermain sabun tanpa harus berpikir negatif tentang orang lain dan menghakimi orang lain atas kesalahan pikiran diri sendiri.
Hidup por oops positive thinking!
-ariEs-