Euh, geus jauh-jauh ka Jogja, guwe teh papanggihna jeung urang Sunda deui!
[Yah, sudah juah pergi ke Jogja, saya malah bertemu orang Sunda juga]
Saya teringat ucapan teman saya 3 tahun yang lalu. Ketika dia baru saja tiba di Jogja untuk kuliah dan saat itu saya memberitahu dia kalau 99,99% penjual bubur kacang hijau [burjo.red] di Jogja juga orang Sunda-Kuningan tepatnya. Saya yang sudah sejak tahun 2000 menghuni Jogja bahkan sudah hapal Burjo mana yang paling enak [burjo Jalur Gaza di Jakal km. 9,8], yang paling banyak porsinya [burjo depan Karita, Terban], samapi burjo yang paling eneg [burjo %#^*^^*^%].
Kemarin sore, saya membaca di Kompas edisi Jateng dan DIY yang menurunkan berita tentang 4 mahasiswa UGM yang membuat inovasi berupa ‘burjo instant’. Tinggal sobek bungkus, tabur serbuk gula dan santan, seduh dengan air panas, tunggu 5 menit, dan burjo pun siap disajikan. Penemuan menarik! Rencananya ‘burjo instant’ ini akan didaftarkan HAKI, diproduksi masal, dan dijual Rp1000 per bungkusnya.
TApi saya kemudian berpikir bagaimana nasib pedagang burjo kalau pangsa pasar ‘burjo made in kuningan’ direbut oleh 4 mahasiswa tadi. Jika dilihat dari sisi ekonomi, harga jual burjo dalam kemasan lebih murah dibanding burjo made in kuningan-seharga Rp1500. Maka tidak tak mungkin kalau demand burjo made in kuningan akan menurun drastis. Belum lagi peranan pihak marketing burjo instan yang akan mengusung slogan: "Mudah, Hemat, dan Sehat" akan menjadikan konsumen setia burjo made in kuningan berlarian ke Carrefour membeli burjo dalam kemasan. Kan gengsinya lebih GEDE dong!
Saya jadi sedih! Bagaiman jadinya jika besok hari warung burjo jadi sepi. Dan saya hanya akan jadi satu-satunya pembeli. Saya hanya akan bisa mengenang masa masa indah di warung burjo: Saat terbangun ditengah malam, kelaparan, dan dengan kaos kusut plus celana kolor seadanya saya mampir ke warung burjo terdekat dari kost-an. Seamngkok burjo dan segelas es kopimix menjadi sajian istimewa di tengah malam. Obrolan kampung halaman [yes, I'm a sundanesse] dan tontonan komedi tengah malam juga tidak jarang jadi menu tambahan. Belum lagi acara nonton bareng Liga Inggris yang sering membuat warung burjo pekek dengan teriakan anak se kost-an. Dan ketika dompet lupa dibawa [atau sengaja tidak dibawa] dan saat tanggal tua, utang pun bisa jadi perekat ‘kekeluargaan’.
Urgh, saya jadi takut. Setelah banyak angkringan jadi dikuasai bapak-bapak plus togel selundupan karena ditinggalkan anak muda yang lebih memilih menghabiskan malam di tempat clubbing, mau kemana lagi saya jika kelaparan ditengah malam? Masa saya harus ke lemabah UGM buat ngintip orang-orang pacaran. Dan saya yang gak punya pacar hanya bisa jadi penonton sambil bicara sama bulan [mellowwww sekali]. Lagipula ini gak bakal ngatasin kelaparan!
Ini tidak adil! Saya khawatir jika aliran burjoisme [makan tengah malam, ngobrol obrolan ringan, nonton bola bareng, dan....ngutang] akan punah dengan adanya burjo isntant. Ingin rasanya saya mengumpulkan rekan-rekan sealiran-burjois- untuk mengadakan perlawanan. "Membuat burjo instant akan membuat burjo tradisional kalah bersaing. Strategi predatory price [menjual dibawah harga pasar] tidak adil. Ini akan mematikan usaha banyak burjo made in kuningan. Mematikan sektor riil. Ini pengkhianatan kaum intelek. Harusnya mahasiswa membantu rakyat [penjual burjo], bukan malah mematikan mata pencahariannya. Tapi apa hak saya?
Urgh…. saya mulai gila! Mulai pusing sendiri. Mulai irasional. Irasional!
.
.
.YA, Irasional!
.
.
Tunggu sebentar, irasional? Irasional! Irasional.*%^%$
Ya, Irasional. Kata ‘irasional’ mulai menghipnotis saya: Irasional. Rasional-i. Sional-ira. Irasional… Aha!
Saya jadi ingat, Ekonomi kan tidak selalu rasional. Berarti ada kemungkinan banyak pelanggan setia burjo tidak berpindah aliran-burjois- meski burjo isntan dijual lebih murah. Karena saya percaya, tidak mungkin rekan-rekan sealiran akan bisa ngutang dai Carrefour ketika tanggal di kalender mulai menunjukan minggu ke-4. Dan bburjoisme tidak akan punah! Hurray…
-ariEs-