Archive for May, 2006

Waiting

Saturday, May 20th, 2006

Mysofa(after two hours doing nothing)


I hate myself for always waiting you for so long.

It’s me alone. Sitting on the couch on the corner. Waiting. Sick… You make me sick once again.

I’m fool. Yes, I am. For never angry to you. For always waiting you…

Sick….. Crazy….. Stumble….. Fall…..

The beautiful mask covering you drown me in blue. So deep blue.

-E-

Thank to You

Friday, May 19th, 2006

Jumat, 17 Mei 2006
Pukul 15.09

Saya baru pulang kerja. Karena ada praktikum komputer pukul 3 dan beberapa rekan kerja masih sibuk dengan urusannya, saya putuskan untuk ke kampus dengan naik bis.

Dua menit pertama. Satu pemuda naik. Kira-kira usia 25 tahun. Dengan tato di lengan kiri dan suara sumbang. Ya, pengamen! Saya masih biasa-biasa saja. Atau mungkin karena sudah terbiasa?

Selang 10 menit, seorang anak naik. Kira-kira 9 tahun. Dengan kaus lusuh dan setumpuk koran di tangan kiri. Bukan, dia bukan anak jalanan yang meminta-minta belas kasihan. Bukan pula pengamen kecil yang bernyanyi diriingi tutup botol minuman. Anak itu seorang penjual koran.

Koran harian ‘Ibu’. Harian yang masih baru-dilabeli harga promosi Rp1.000. Dengan suara lantang ia menawarkan kepada penumpang bisa satu per satu. Saya membeli satu. Saya bayar dengan harga normal. Dia dengan halus berkata, "cuma seribu Mas," sembari mengembalikan sisanya. Saya jawab, "buat makan." Dengan tulus dia menjawab lagi, "terima kasih." Saya mengangguk.

Saya sedih, atau barangkali terharu. Biasanya banyak anak-anak (yang dieksploitasi orang tuanya untuk) meminta-minta di jalanan. Sudah 6 tahun lamanya saya di Yogya, kadang jadi heran. Kota Pelajar itu untuk siapa? Banyak anak jalanan di seputar simpang empat POM Bensin Sagan [ekstrim dengan mahasiswa yang membeli bensin dengan mobil mewah orang tuanya], seputar Jalan Dipenogoro [ekstrim dengan mahasiswa yang sekedar jajan di Pizza Hut], atau seputar simpang empat Jalan Jend. Sudirman [ekstrim dengan anak SMP yang jajan di Dunkin's plus beli manga di Gramedia]. Dan kali ini, si anak gak mau sekedar minta-minta. Tapi dia berusaha.

Saya jadi malu sendiri. Udah diberi orang tua masih kurang, dapet gaji masih ngeluh juga, dan dapet objek-an masih ngerasa kurang juga. Kurang terus…

Terima kasih Ya Allah atas berkah-Mu selama ini….

Semoga banyak orang yang bisa merasa lebih bahagia…

Engkaulah yang Maha Pemurah dan Penyayang umat….

-E-

Menonton Merapi

Sunday, May 14th, 2006

Minggu Malam, saya baru saja menyelesaikan sebuah proyek penelitian di rumah seorang teman. Tepatnya di sekitaran Jalan Magelang Yogyakarta.

Ketika pulang, jam tangan sudah menunjukan pukul 12 malam. Yogya sudah gelap. Dan polisi sudah lelap (Ini penting untuk orang yang gak punya SIM seperti saya!).

Selepas perempatan jetis, saya berbelok ke arah timur. Yang mengherankan, di seputaran Jembatan Jalan Prof. Dr. Sardjito banyak sekali orang berkerumun. Ada 2 keluarga bahagia (1 Ayah, 1 Ibu, dan 2 Anak), kira-kira 4 pasangan (yang mungkin juga bahagia), beberapa warga yang berkerumun (dan tampak bahagia), dan saya sendirian (kurang bahagia).

Dari jembatan, merapi terlihat muntahan laharnya. Merah-atau oranye- keluar sedikit demi sedikit dari kubahnya. Disusul dengan awan putih panah yang tampak menuruni lerengnya.

Saya jadi teringat penduduk Merapi yang (mungkin) belum mengungsi… Bagaimana nasib mereka?

Saya jadi bingung, apa saya harus bersedih atau atau bahagia. Saya bersedih karena ada yang terkena bencana. tapi saya juga bahagia, karena ada juga orang-orang yang sama tidak bahagianya dengan saya.

Burjoisme!

Friday, May 5th, 2006

Euh, geus jauh-jauh ka Jogja, guwe teh papanggihna jeung urang Sunda deui!
[Yah, sudah juah pergi ke Jogja, saya malah bertemu orang Sunda juga]

Saya teringat ucapan teman saya 3 tahun yang lalu. Ketika dia baru saja tiba di Jogja untuk kuliah dan saat itu saya memberitahu dia kalau 99,99% penjual bubur kacang hijau [burjo.red] di Jogja juga orang Sunda-Kuningan tepatnya. Saya yang sudah sejak tahun 2000 menghuni Jogja bahkan sudah hapal Burjo mana yang paling enak [burjo Jalur Gaza di Jakal km. 9,8], yang paling banyak porsinya [burjo depan Karita, Terban], samapi burjo yang paling eneg [burjo %#^*^^*^%].

Kemarin sore, saya membaca di Kompas edisi Jateng dan DIY yang menurunkan berita tentang 4 mahasiswa UGM yang membuat inovasi berupa ‘burjo instant’. Tinggal sobek bungkus, tabur serbuk gula dan santan, seduh dengan air panas, tunggu 5 menit, dan burjo pun siap disajikan. Penemuan menarik! Rencananya ‘burjo instant’ ini akan didaftarkan HAKI, diproduksi masal, dan dijual Rp1000 per bungkusnya.

TApi saya kemudian berpikir bagaimana nasib pedagang burjo kalau pangsa pasar ‘burjo made in kuningan’ direbut oleh 4 mahasiswa tadi. Jika dilihat dari sisi ekonomi, harga jual burjo dalam kemasan lebih murah dibanding burjo made in kuningan-seharga Rp1500. Maka tidak tak mungkin kalau demand burjo  made in kuningan akan menurun drastis. Belum lagi peranan pihak marketing burjo instan yang akan mengusung slogan: "Mudah, Hemat, dan Sehat" akan menjadikan konsumen setia burjo made in kuningan berlarian ke Carrefour membeli burjo dalam kemasan. Kan gengsinya lebih GEDE dong!

Saya jadi sedih! Bagaiman jadinya jika besok hari warung burjo jadi sepi. Dan saya hanya akan jadi satu-satunya pembeli. Saya hanya akan bisa mengenang masa masa indah di warung burjo: Saat terbangun ditengah malam, kelaparan, dan dengan kaos kusut plus celana kolor seadanya saya mampir ke warung burjo terdekat dari kost-an. Seamngkok burjo dan segelas es kopimix menjadi sajian istimewa di tengah malam. Obrolan kampung halaman [yes, I'm a sundanesse] dan tontonan komedi tengah malam juga tidak jarang jadi menu tambahan. Belum lagi acara nonton bareng Liga Inggris yang sering membuat warung burjo pekek dengan teriakan anak se kost-an. Dan ketika dompet lupa dibawa [atau sengaja tidak dibawa] dan saat tanggal tua, utang pun bisa jadi perekat ‘kekeluargaan’.

Urgh, saya jadi takut. Setelah banyak angkringan jadi dikuasai bapak-bapak plus togel selundupan karena ditinggalkan anak muda yang lebih memilih menghabiskan malam di tempat clubbing, mau kemana lagi saya jika kelaparan ditengah malam? Masa saya harus ke lemabah UGM buat ngintip orang-orang pacaran. Dan saya yang gak punya pacar hanya bisa jadi penonton sambil bicara sama bulan [mellowwww sekali]. Lagipula ini gak bakal ngatasin kelaparan!

Ini tidak adil! Saya khawatir jika aliran burjoisme [makan tengah malam, ngobrol obrolan ringan, nonton bola bareng, dan....ngutang] akan punah dengan adanya burjo isntant. Ingin rasanya saya mengumpulkan rekan-rekan sealiran-burjois- untuk mengadakan perlawanan. "Membuat burjo instant akan membuat burjo tradisional kalah bersaing. Strategi predatory price [menjual dibawah harga pasar] tidak adil. Ini akan mematikan usaha banyak burjo made in kuningan. Mematikan sektor riil. Ini pengkhianatan kaum intelek. Harusnya mahasiswa membantu rakyat [penjual burjo], bukan malah mematikan mata pencahariannya. Tapi apa hak saya?

Urgh…. saya mulai gila! Mulai pusing sendiri. Mulai irasional. Irasional!
.
.
.YA, Irasional!
.
.
Tunggu sebentar, irasional? Irasional! Irasional.*%^%$
Ya, Irasional. Kata ‘irasional’ mulai menghipnotis saya: Irasional. Rasional-i. Sional-ira. Irasional… Aha!

Saya jadi ingat, Ekonomi kan tidak selalu rasional. Berarti ada kemungkinan banyak pelanggan setia burjo tidak berpindah aliran-burjois- meski burjo isntan dijual lebih murah. Karena saya percaya, tidak mungkin rekan-rekan sealiran akan bisa ngutang dai Carrefour ketika tanggal di kalender mulai menunjukan minggu ke-4. Dan bburjoisme tidak akan punah! Hurray…

-ariEs-