Archive for October, 2006

Let’s Get Suicide!

Monday, October 16th, 2006

October 17, 2006.
06.02 AM
Click Clock!

I’m thinking of my friend who has just sent me a message. He said he was lonely and wanted to get suicide. I was shock, the replied the message asking why. He replied and said that he has no friend to share…

I was confuse wheter I had to be angry or happy. I was angry coz he didn’t consider me as his friend so far. And I was happy to know that I had someone feeling the same with me.

I replied the message again, type: "Let’s get suicide ndi!"

-no reply-

ariEs

Blue Thursday

Tuesday, October 10th, 2006

BluE Thursday

Her: Aku pikir penjelasanku bisa bikin kamu berubah. Ternyata gak. Aku menyerah. Aku di pihak yang lemah.

Him: Kamu salah. Kamu gak lemah. Kamu kuat, cuma harus berani ambil tempat. Berani juga nanggung akibat.

Her: Aku udah ambil tempat bahkan nanggung akibat. Tapi gak ada hasil. Karena KAMU GAK MAU NGERTI!

Him: YA, AKU GAK BISA NGERTI. Gak ngerti kenapa kamu maksa aku untuk selalu ngertiin kamu. Aku harus bilang, kalo untuk yang satu ini kamu terlalu egois.

Her: Bukan egois. Aku cuma ngerasa udah banyak berkorban…

Him: (what..?) voice inside heart

Her: …Tapi kamu gak mau berkorban buat aku, untuk masalah ini. Aku butuh sedikiiiit aja pengorbanan kamu buat aku.

Him: Karena masalah ini vital. Bukan cuma aku dan kamu yang terlibat. Tapi juga agama kita. Ini kaitannya sama Tuhan…

Her: Kayaknya kamu selalu pakai alasan itu untuk nolak aku. Ada alasan yang lebih kongkrit? Aku terlalu jelek buat kamu?

Him: Bukan itu alasannya…. Sudahlah…jangan melebarkan masalah!

Her: quiet

Him: turn back and go

Her: cries

Him: (I hope you understand!) voice inside heart

-E-

My Funny Lil Kid and (not funny) Me

Friday, October 6th, 2006

I want to fly like them!, he shouted. Ia menunjuk pada
anak-anak yang sedang bermain mini roller-coaster di sebuah Mal yang kami
kunjungi sore itu.

You will, but we should buy a story book for you first.

Kan

itu tujuan kita ke
sini!, ujar saya sambil tersenyum padanya.

Tapi setelah beli buku, you promise me that I can fly like
them?

Okay…., I nodded. Sebenarnya saya tidak yakin saya akan
menepati janji itu. Tapi mau bagaimana lagi, daripada dia nangis di Mal. I was
also afraid I would look like a stupid immature father. Sebuah apologi.

 

The lil kid pun akhirnya meraih tangan kanan saya dan
menarik saya untuk masuk ke sebuah toko buku. Ia berlarian di antara buku
anak-anak yang bergambar Sponge Bob. Humh..seharusnya saya tidak mengizinkan
dia menonton tokoh kartun itu. Efek negatifnya terbukti ada. Ia senang mengucapkan
‘Dasar Bodoh’ pada setiap orang atau hal yang dia tidak senangi. Saya sudah
coba menegurnya dan tidak berani ia mengucapkan frasa itu di hadapan saya. Tapi
toh ketika ia bermain dengan teman sekolahnya, frasa itu sering kali muncul
kembali. Menyesal memang tiada guna, lagi pula saya membiarkan ia menonton busa
kuning itu karena saya sibuk. Sibuk mencari uang untuk ia (dan kuliah saya
tentunya). Lagi-lagi sebuah apologi.

 

‘Can I have both of them?’ ia menunjukan dua buku cerita
bergambar.

Saya membolak-balik halaman buku-buku itu. Perlu di-cek.
Sekarang ini banyak buku anak yang tidak diawasi isinya. Pernah satu kali saya melihat
buku cerita bergambar dengan tokoh kucing beraksi ala Zorro dan membunuh tikus
dengan pedangnya. Gambar yang diperlihatkan tidak hanya perut tikus yang
tercerai berai tapi juga gambar si kucing yang memakan tikus

malang

itu. Gila…buat saya ini jauh lebih
berbahaya dibanding

mengucapkan ‘Dasar Bodoh!’. Setelah di-cek dan hasilnya
nihil, saya pun menganguk.

 

Sekarang ia menarik tangan kanan saya lagi dan menarik saya
ke kasir untuk membayar.

‘Wait a minute Kak (I call him Kakak karena berencana
memberikannya Adik)!’ I said to him. Saya pun mengambil National Geographic
edisi baru dan mencoba menunjukan gambar sampul (seekor Gajah) kepadanya. ‘It’s
cute, isn’t it?’.

‘Nggak!’ ujarnya ketus.

Saya membalasnya dengan muka cemberut.

Ia pun tertawa terbahak. ‘Papa’s like a clown,’ he said. Ia
menarik tangan saya lagi.

Saya pun mengambil satu National Geographic dan mengikutinya
ke kasir.

 

Selepas dari kasir saya bertanya padanya. ‘Lapar gak?’

Ia mengangguk sembari membaca salah satu buku yang baru
dibeli.

‘Mau makan apa?’

‘Terserah’

‘Bakso?’

‘Ya’

Kami pun turun ke lantai 1 (tempat food-court) dan masuk ke
sebuah gerai Bakso.

 

‘Gimana ceritanya?’ Tanya saya.

‘Lucuuuuu.’ Ia mengucapkan kata lucuuuuu dengan bibirnya
yang menguncup.

Saya tertawa.

‘Kok papa udah ketawa?

Kan

belum baca bukunya.’

‘Kalau menurut kamu lucu, pasti menurut papa juga lucu’

Ia kembali membaca.

 

Bakso pesanan pun datang. Kami makan bersama.

 

Rupanya the lil boy memiliki daya ingat yang cukup kuat.
Segera selesai mangkuknya tandas, ia mengingatkan saya: ‘Hurry up, Pap! I can’t
wait to fly!’

Deng..deng…kepala saya mulai pusing. Rupanya ia masih
ingat janji saya untuk membolehkan ia menaiki mini roller-coaster di lantai 2
tadi.

Ah…coba kalau saya tidak berjanji. Saya mulai mencari
alasan.

‘Tapi kita

kan

baru saja makan. Nanti muntah’

‘Gak. Kita gak akan muntah

Pa.

Ayo….’

Saya menyerah. Setelah membayar di kasir, kami pergi lagi
menuju eskalator.

 

Di arena permainan itu kami membeli tiket. Oh…sayangnya,
yang diperbolehkan naik mini roller-coaster adalah anak dibawah 12 tahun. Saya
pun memilih untuk batal membeli tiket.

 

The lil kid mulai bertanya, ‘kenapa gak jadi beli tiket?’

‘Huhm…kita gak bisa naik. Ya kakak si boleh, tapi papa gak.’

‘Why?’

‘Yang boleh naik cuma anak-anak’

‘’Yah… Kenapa?’

Kan

badan papa udah gede… nanti roller-coasternya gak mau jalan.’

‘Pulang aja yo Pap?!’

‘Kakak gak mau naik sendiri?’

‘Gak ah.. gak seru kalo gak sama papa.’

‘Papa

kan

udah pernah. Kakak gak berani sendiri ya?’

‘’Gak… Kakak berani kok sendiri. Kakak

kan

pulang sekolah sendiri.’ The lil boy
merengut.

‘Trus kenapa kakak gak mau?’

‘Waktu Mama mau pergi. Mama bilang kalo kakak mau main,
kakak harus bareng-bareng sama Papa.’

‘Pap’

‘Kalo gitu, kita pulang aja ya kak?’

‘Papa pusing ya?’

‘Ngantuk.’ Saya coba tersenyum padanya.

‘Wah, Papa capek banget ya? Mata papa berair!’ Telunjuknya
menunjuk mata saya.

Saya menatap lurus sembari menuntun tangan the lil kid. Dan
saya berusaha menahan tangis saya.

 

Mobil mulai dihidupkan. Saya berhasil mengendalikan emosi
saya, tapi tetap belum mampu menatap mata the lil kid. Saya tahu ia terus memperhatikan
saya.

‘Papa capek ya?’

‘Saya mengangguk.

‘Gara-gara kakak ajak ke toko buku ya.’

‘Enggak kak.’

‘Kakak harusnya tau kalo Papa pulang kerja pasti capek.’ Ia
mulai menyalahkan dirinya sendiri.

‘Enggak kak. Papa kekenyangan makan bakso.’ Saya berbohong.

Ia terlihat lebih tenang dan mulai membaca buku cerita
bergambarnya lagi.

 

Jalanan sudah ramai ketika kami keluar dari area parkir.
Huh….mobil berjalan dengan merayap. Entah berapa lama kami akan sampai di
rumah.

 

Jam sudah menunjukan pukul 17.40.

The lil kid, saya lihat sudah tertidur. Tangannya masih
menggenggam buku cerita bergambarnya. Pulas.

 

Kami baru sampai di depan rumah.

Ketika saya membuka sabuk pengaman, saya mulai melihat gerak
di muka the lil kid. Ah, barangkali mimpi, pikir saya. Sampai ketika dengan
mata masih terpejam, ia berkata:

‘Mama…kakak gak jadi terbang. Tapi kakak dengerin nasehat
mama. Kakak gak boleh main kalo gak sama Papa. Mama seneng

kan

?’

 

Saya tidak jadi turun dari mobil. Badan saya lemas. Pikiran
saya teringat pada kenangan lama itu. Saya teringat seseorang yang telah lama meninggalkan
saya dan the lil kid. Entah kemana.

 

Saya masih terdiam di kursi mobil. The lil kid masih
tertidur di kursinya. Saya ingin menangis tapi saya tahan. Adzan maghrib
terdengar dari kaca pintu mobil yang saya buka.

 

-ariEs-

 

Yogyakarta

, menjelang
Puasa.