I want to fly like them!, he shouted. Ia menunjuk pada
anak-anak yang sedang bermain mini roller-coaster di sebuah Mal yang kami
kunjungi sore itu.
You will, but we should buy a story book for you first.
Kan
itu tujuan kita ke
sini!, ujar saya sambil tersenyum padanya.
Tapi setelah beli buku, you promise me that I can fly like
them?
Okay…., I nodded. Sebenarnya saya tidak yakin saya akan
menepati janji itu. Tapi mau bagaimana lagi, daripada dia nangis di Mal. I was
also afraid I would look like a stupid immature father. Sebuah apologi.
The lil kid pun akhirnya meraih tangan kanan saya dan
menarik saya untuk masuk ke sebuah toko buku. Ia berlarian di antara buku
anak-anak yang bergambar Sponge Bob. Humh..seharusnya saya tidak mengizinkan
dia menonton tokoh kartun itu. Efek negatifnya terbukti ada. Ia senang mengucapkan
‘Dasar Bodoh’ pada setiap orang atau hal yang dia tidak senangi. Saya sudah
coba menegurnya dan tidak berani ia mengucapkan frasa itu di hadapan saya. Tapi
toh ketika ia bermain dengan teman sekolahnya, frasa itu sering kali muncul
kembali. Menyesal memang tiada guna, lagi pula saya membiarkan ia menonton busa
kuning itu karena saya sibuk. Sibuk mencari uang untuk ia (dan kuliah saya
tentunya). Lagi-lagi sebuah apologi.
‘Can I have both of them?’ ia menunjukan dua buku cerita
bergambar.
Saya membolak-balik halaman buku-buku itu. Perlu di-cek.
Sekarang ini banyak buku anak yang tidak diawasi isinya. Pernah satu kali saya melihat
buku cerita bergambar dengan tokoh kucing beraksi ala Zorro dan membunuh tikus
dengan pedangnya. Gambar yang diperlihatkan tidak hanya perut tikus yang
tercerai berai tapi juga gambar si kucing yang memakan tikus
malang
itu. Gila…buat saya ini jauh lebih
berbahaya dibanding
mengucapkan ‘Dasar Bodoh!’. Setelah di-cek dan hasilnya
nihil, saya pun menganguk.
Sekarang ia menarik tangan kanan saya lagi dan menarik saya
ke kasir untuk membayar.
‘Wait a minute Kak (I call him Kakak karena berencana
memberikannya Adik)!’ I said to him. Saya pun mengambil National Geographic
edisi baru dan mencoba menunjukan gambar sampul (seekor Gajah) kepadanya. ‘It’s
cute, isn’t it?’.
‘Nggak!’ ujarnya ketus.
Saya membalasnya dengan muka cemberut.
Ia pun tertawa terbahak. ‘Papa’s like a clown,’ he said. Ia
menarik tangan saya lagi.
Saya pun mengambil satu National Geographic dan mengikutinya
ke kasir.
Selepas dari kasir saya bertanya padanya. ‘Lapar gak?’
Ia mengangguk sembari membaca salah satu buku yang baru
dibeli.
‘Mau makan apa?’
‘Terserah’
‘Bakso?’
‘Ya’
Kami pun turun ke lantai 1 (tempat food-court) dan masuk ke
sebuah gerai Bakso.
‘Gimana ceritanya?’ Tanya saya.
‘Lucuuuuu.’ Ia mengucapkan kata lucuuuuu dengan bibirnya
yang menguncup.
Saya tertawa.
‘Kok papa udah ketawa?
Kan
belum baca bukunya.’
‘Kalau menurut kamu lucu, pasti menurut papa juga lucu’
Ia kembali membaca.
Bakso pesanan pun datang. Kami makan bersama.
Rupanya the lil boy memiliki daya ingat yang cukup kuat.
Segera selesai mangkuknya tandas, ia mengingatkan saya: ‘Hurry up, Pap! I can’t
wait to fly!’
Deng..deng…kepala saya mulai pusing. Rupanya ia masih
ingat janji saya untuk membolehkan ia menaiki mini roller-coaster di lantai 2
tadi.
Ah…coba kalau saya tidak berjanji. Saya mulai mencari
alasan.
‘Tapi kita
kan
baru saja makan. Nanti muntah’
‘Gak. Kita gak akan muntah
Pa.
Ayo….’
Saya menyerah. Setelah membayar di kasir, kami pergi lagi
menuju eskalator.
Di arena permainan itu kami membeli tiket. Oh…sayangnya,
yang diperbolehkan naik mini roller-coaster adalah anak dibawah 12 tahun. Saya
pun memilih untuk batal membeli tiket.
The lil kid mulai bertanya, ‘kenapa gak jadi beli tiket?’
‘Huhm…kita gak bisa naik. Ya kakak si boleh, tapi papa gak.’
‘Why?’
‘Yang boleh naik cuma anak-anak’
‘’Yah… Kenapa?’
‘
Kan
badan papa udah gede… nanti roller-coasternya gak mau jalan.’
‘Pulang aja yo Pap?!’
‘Kakak gak mau naik sendiri?’
‘Gak ah.. gak seru kalo gak sama papa.’
‘Papa
kan
udah pernah. Kakak gak berani sendiri ya?’
‘’Gak… Kakak berani kok sendiri. Kakak
kan
pulang sekolah sendiri.’ The lil boy
merengut.
‘Trus kenapa kakak gak mau?’
‘Waktu Mama mau pergi. Mama bilang kalo kakak mau main,
kakak harus bareng-bareng sama Papa.’
…
‘Pap’
…
…
‘Kalo gitu, kita pulang aja ya kak?’
‘Papa pusing ya?’
‘Ngantuk.’ Saya coba tersenyum padanya.
‘Wah, Papa capek banget ya? Mata papa berair!’ Telunjuknya
menunjuk mata saya.
Saya menatap lurus sembari menuntun tangan the lil kid. Dan
saya berusaha menahan tangis saya.
Mobil mulai dihidupkan. Saya berhasil mengendalikan emosi
saya, tapi tetap belum mampu menatap mata the lil kid. Saya tahu ia terus memperhatikan
saya.
‘Papa capek ya?’
‘Saya mengangguk.
‘Gara-gara kakak ajak ke toko buku ya.’
‘Enggak kak.’
‘Kakak harusnya tau kalo Papa pulang kerja pasti capek.’ Ia
mulai menyalahkan dirinya sendiri.
‘Enggak kak. Papa kekenyangan makan bakso.’ Saya berbohong.
Ia terlihat lebih tenang dan mulai membaca buku cerita
bergambarnya lagi.
Jalanan sudah ramai ketika kami keluar dari area parkir.
Huh….mobil berjalan dengan merayap. Entah berapa lama kami akan sampai di
rumah.
Jam sudah menunjukan pukul 17.40.
The lil kid, saya lihat sudah tertidur. Tangannya masih
menggenggam buku cerita bergambarnya. Pulas.
Kami baru sampai di depan rumah.
Ketika saya membuka sabuk pengaman, saya mulai melihat gerak
di muka the lil kid. Ah, barangkali mimpi, pikir saya. Sampai ketika dengan
mata masih terpejam, ia berkata:
‘Mama…kakak gak jadi terbang. Tapi kakak dengerin nasehat
mama. Kakak gak boleh main kalo gak sama Papa. Mama seneng
kan
?’
Saya tidak jadi turun dari mobil. Badan saya lemas. Pikiran
saya teringat pada kenangan lama itu. Saya teringat seseorang yang telah lama meninggalkan
saya dan the lil kid. Entah kemana.
Saya masih terdiam di kursi mobil. The lil kid masih
tertidur di kursinya. Saya ingin menangis tapi saya tahan. Adzan maghrib
terdengar dari kaca pintu mobil yang saya buka.
-ariEs-
Yogyakarta
, menjelang
Puasa.