2006 is all about…..
Wednesday, November 22nd, 2006The Greatest Things of 2006
“May 27th Earthquake”
Jangan salah paham dulu! Bukannya saya senang dengan adanya gempa, tapi hikmah dibalik gempa itu yang saya pikir em…great! Malam pertama setelah gempa benar-benar memberikan impresi bagi saya. Bermalam
dengan ratusan orang di sebuah lapangan (dengan alas Koran dan atap lagit dan bintang-bintang!) merupakan keistimewaan yang sulit terulangi. Bagaimana tidak, seorang anak muda dengan Honda Jazz-nya, Motor-motor dengan plat non AB, Penduduk aseli Jogja, dan Mahasiswa yang biasa ajep-ajep, dan saya tentunya…tidur bareng-bareng….. Kekeluargaannya itu loh. Kapan lagi coba!
Opera Jawa: the movie (A Requiem from Java: the movie)
Alhamdulillah! I feel so lucky to have an opportunity to watch this movie.
Pssst…bahkan saya menontonnya sebelum The World Premiere film ini pada Jogja NETPAC Asian Film Festival. Humh…saya menontonnya pada saat screening-test film ini untuk world premiere-nya hehehe!
Film ini seru…karena semua dialog dibuat menjadi tembang jawa (hanya ada satu tembang berbahasa non-jawa, yakni Requiem yang ditembangkan oleh Maestro Tari, Ibu Retno Maruti). Cerita cinta segitiga Rama, Sinta, dan Rahwana yang diadaptasi di film ini pun tidak ditelan mentah-mentah. Garin Nugroho justru “memelesetkan” kisah kuno ‘Sinta yang di culik Rahwana dari Rama’ menjadi ‘Sinta melarikan diri dari Rama untuk mencari Rahwana karena Rama sudah tidak mampu memberikannya nafkah lahir dan batin’.
Mbak Artika Sari Devi (sebagai Sitti), Bapak Miroto (sebagai Setyo), dan dan Mas Eko S (sebagai Ludiro) berperan secara keren. Sayangnya di Festival Film Indonesia 2006, film ini miskin nominasi.
Memang film ini sulit dicerna bagi orang yang berbahasa non-jawa. Tapi ada yang unik, yaitu sebuah tembang Jawa yang dinyanyikan Dalang Edan, Slamet Gundono dengan irama Jazz dan teknik vokal yang soulful! Javanesse Jazz, a new wave?
Dialog by Umar Khayam
Ini adalah sebuah buku kumpulan esai Bapak Umar Khayam di berbagai media massa, mulai tahun 1980’an hingga sebelum 2002 (tahun beliau meninggal).
Thanks to Mikael Johani dan Penerbit Metafora yang mau mengumpulkan serpihan-serpihan karya yang kritis, cerdas, bernas, dan Umar Khayam banget-yaitu nyeleneh!
Rekomendasi: Baca tulisan Umar Khayam tentang Jam Karet di buku ini, yang diambil dari Kompas tahun…… 1985… Bayangkan, lebih dari dua dekade setelahnya pun, penyakit ini masih eksis!
Tetralogi Buru by Pramoedya A. T.
Setelah sebelum-sebelumnya sulit dicari-kecuali bagi yang memiliki edisi lama, bahkan teman saya sampai membuat copynya-, akhirnya Tetralogi Buru terbit lagi (oleh Lentera Dwipantara). Meski yang terbit baru 3 seri (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah), keberadaan kembali buku ini jadi incaran koleksi. Patut Dibaca!
Konser Untukmu Negeri by Anggun
It does have an international concert standard. No wonder….it’s Anggun.
The sound, the singer, the band, Jay Subiyakto, and “Sang Saka Merah Putih” in the end of the concert.
Terharu!
*mengambil tissue*
SBY as a Nominee for Peace Noble 2006
Meski nggak menang, penyebutan nama SBY (Indonesia) dalam bursa calon penerima Nobel Perdamaian menjadi topik baru bagi perbincangan saya dan rekan saya yang berasal dari luar negeri-setelah sebelumnya hanya berkutat pada This Earth of Mankind-nya Pramoedya A. T., Anggun, Restoran Indonesia at Paris, dan Avian Influenza :-).
Indonesia Physic Olympiad Team
Salute for Prof. Yohannes Surya!
Article On Reader’s Digest Indonesia, August Edition
Artikel saya akhirnya dimuat di Reader’s Digest Indonesia.
Sebenarnya ini "tulisan" iseng di kepala saya pada jam-jam pertama gempa, ketika saya membantu Budi (salah satu narasumber saya di tulisan ini) dan rekan-rekan PALMAE menggulung peralatan evakuasi dan menyiapkan air mineral. Untunglah saya kemudian bertemu dengan beberapa rekan-rekan hebat (yang pada akhirnya saya jadikan narasumber) yang mau bersusah payah menjadi relawan (pada saat yang sama ketika rekan-rekan saya yang lain, justru LARI ke luar kota).
Next Year, masuk Reader’s Digest Asia dong!
The Worst Things of 2006
Israel on Lebanon
No comment!
Brainless beauty #1: Nadine
Bagi banyak orang, “Indonesia is a beautiful city” adalah mimpi buruk.
Bagi saya “Mother Theresa is my admirer” dan “Indonesia has a lot of beautiful B*tches” jauh lebih buruk.
Masalahnya adalah ia pernah mengaku lancar berbahasa Inggris dan Jerman. Lha, buktinya apa?
Sebenarnya cukup menggelaikan juga ketika ada seseorang menuliskan bahwa hadirnya Nadine di Miss Universe memang mengundang orang untuk tahu lebih banyak tentang Indonesia. Ya, tapi sayangnya dengan cara yang justru menjatuhkan citra Indonesia.
Btw, i read on detik.com that she wrote a book…I haven’t read the book, but I’m not sure she write it by herself. Maaf ya Nadine…
Brainless beauty #2: Mulan and Maia
Tentang dipaksa turun panggung saat Kongres Partai Demokrat (karena menyebutkan “Bapak Bambang Susilo Yudhoyono (BSY?!) dan Saudara Gus Dur) sudah banyak dimuat media. Tapi ada satu lagi yang bodoh: saat Ulang Tahun Bursa Efek Jakarta. Saat Maia dengan PD-nya menyodorkan mic kepada seorang Chairman sebuah perusahaan sekuritas yang duduk disamping Menteri Keuangan dan bertanya: ‘Bapak tahu sekarang acara apa?’. Si Bapak menjawab: ‘Ultah BEJ’. Maia kemudian menimpali lagi: ‘Benar!’
OMG, kok kelihatan…(maaf, mbak Maia)…bodoh.
Aduh neng Wulansari dan mbak Maya…baca Kompas atuh!
The Argument of The Sexiest Woman 2006 (FHM Indonesia Version)
Terserah jika FHM akhirnya menentukan Cut Tari sebagai Indonesia’s sexiest woman of 2006. Tapi alasan Cut Tari terpilih karena ia pembawa acara infotainment Insert kok agak aneh ya?! Apa pembaca FHM adalah penonton setia acara gossip itu? Aneh…kapan ya FHM menggeser pangsa pasarnya?!
Demo menentang Playboy
Inkonsistensi paling kasat mata yang pernah ada. Cover Playboy hanya menunjukan muka Andhara sementara rival Playboy: FH%, MA$IM, POPUL^R yang memasang perempuan ber-swimsuit ria sebagai cover sama sekali tidak digugat. Harusnya pemrotes membaca, bukan hanya melihat namanya. Saya sempat membaca Playboy Edisi Juli 2006 dan menemukan isi majalah ini berbobot: artikel tentang sampah di Bandung.
Dunia Tanpa Koma
The most dissapointed things! Sudah membuat saya kapok hanya dengan nonton satu episode saja. Tadinya saya pikir, cerita tentang watawan akan memberika cerita yang BEDA dari DTK. Tapi apa hasilnya? Dian Sastro terlihat tidak mendalami peran Raya, seorang lulusan University of New York, bidang Feminisme pula! Fauzi Baadila mungkin tidak terjun langsung mencoba jadi wartawan. Hal ini terlihat dari gaya dia ketika mendapat kesempatan ekslusif meliput penangkapan seorang artis yang terlibat narkoba. Fauzi terlihat mengangkat kamera sampai ke atas kepalanya untuk memotret, padahal sebagai satu-satunya wartawan dia harusnya memotret secara frontal langsung. Toh dia nggak saling sikut dengan wartawan lain. Tora Sudiro dan Indra Birowo pun terlihat terlalu bergaya Extravaganza (dibaca: slapstick.ed). Sampai pada akhir episode itu menunjukan Raya diguyur sebotol minuman ber-merk karena berhasil mewawancarai Mariana Renata, padahal pada beberapa scene sebelumnya ada rekan Raya yang mengatakan: ‘gaji wartawan tuh nggak seberapa’. Lalu, kok bisa foya-foya? Wartawan amplop?
1, 2, 3 = Milyarder
Selalu ada pemenang duit milyaran itu, setelah beberapa lama (dan mungkin setelah rating-nya turun). Modus operandinya tercium!
Tommy Soeharto
15 tahun = 4 tahun 3 bulan. Tidak ada rumusnya!
National Seminar of Management Event 2006 on CSR (Corporate Social Responsibility): Integrating Social Aspect into the Business
Maafkan saya kawan….! Pengelolaan seminarnya bagus. Saya yang datang terlambat pun masih dilayani dengan senyuman. Tapi isinya itu loh…. Masa iklan terus. Ini kan seminar, bukan ajang cuci otak dari sponsor iklan sabun! Jujur saja ini mengecewakan. Harusnya tema CSR yang sedang in dapat menimbulkan dialog. Tapi yang terjadi hanya monolog. It was only covering one side. Saya mengharapkan ada pihak yang kritis (misal WALHI atau WWF). Yang ada hanya perusahaan, perusahaan, perusahaan, dan pembicara dari Departemen Lingkungan Hidup yang TERLALU Pro Perusahaan. Tiket seharga Rp25 ribu pun nggak break even point dengan ilmu yang di dapat! Sama saja saya baca SWA!
Peace!
AriEs (",)v
note:
Semua argumen adalah murni pendapat saya pridadi. Punya pendapat beda? Monggo!
Gambar koleksi pribadi & dok. internet.



