Archive for December, 2006

Resolution Theory

Saturday, December 30th, 2006

I love the new year season. Well, call me sentimental. But, the recalling memories just rip at my heartstrings. I wonder what this next year will hold for me?

Tahun Baru!

Selain ikut serta dalam hingar bingar pesta beserta trompet dan Fireworkskembang apinya, membeli Agenda baru adalah rutinitas yang mutlak dilakukan terkait acara Tahun Baru. Sebundel kertas pengingat tempat mencatat jadwal meeting dengan si Bos, olahraga, janji dengan rekan sekelompok, rencana liburan, nomor telepon narasumber (atau sesorang yang baru saja ditemui saat makan siang di Taman Sari Foodcourt?!), dan lain-lainnya. Dan biasanya berderet-deret rencana positif mulai dituangkan sebagai target operasi tahun depan. Resolusi.

Agenda lama yang berisi seratus resolusi yang dituliskan awal tahun lalu mulai dievaluasi dan dinilai. Bagaimana hasilnya? Bisa jadi terpenuhi, bisa tidak. Sudahkah kadar suicidal tendency berkurang? Berbahagialah jika iya. Jika tidak? Maka ini adalah saat yang tepat untuk menuliskan kembali seratus resolusi itu.

My_wrist Entah kenapa tahun baru seolah memiliki spirit tertentu untuk memulai hari baru. Rencana baru. Perilaku baru. Trend baru. Intinya, perubahan. Seolah menjadi momentum tepat dalam mengambil suatu keputusan. Saya sendiri berjanji untuk lebih banyak membeli dan membaca buku yang dapat menjadi asupan otak saya (sekaligus referensi skripsi). Saya juga berjanji untuk mengurangi kuantitas sayatan silet di pergelangan tangan saya (sebelum saya nanti meninggal wajar namun dianggap pecandu narkoba!). Saya janji untuk berubah.

Tak mudah memang. Terlebih jika harus meninggalkan zona nyaman. Euro_1 Orang-orang di 12 negara Eropa mengganti mata uangnya dengan Euro pada 1 Januari, 3 tahun lalu. Bukan tanpa masalah, karena perlu adaptasi. Mengurangi rokok konon bisa membuat mulut terasa asam. Membaca buku lebih banyak berarti membuat saya harus menyediakan lebih banyak kopi. Ada resiko memang. Tercapai atau tidak? Just wait and see! Tapi setidaknya saya menuliskannya pada Agenda baru saya sebagai pengingat.

Tahun baru adalah sebuah pijakan untuk bisa lebih maju. One step ahead, at least. Many steps, better. Posisi di kantor harus promosi lagi (kapan Bos, saya jadi redaktur madya?). Kurangi minum minuman bersoda. Kurangi begadang (kecuali ada deadline mendadak!). Ngobrol gak jelas dibatasi hanya pas weekend saja. Eitsss…..apa nggak kebanyakan? Gimana kalau semuanya nggak tercapai? Ini semua bergantung pada niat, bung. When there is a will, there is a way. Jadi, kenapa tidak mencoba.

Yang pasti, ada satu tanggal yang patut diberi tanda dalam Agenda baru saya. Hari Ulang Tahun. Untuk sekedar mengingatkan saya, bahwa menjalani tahun depan memerlukan lebih pertanggungjawaban. Saya bertambah dewasa (eufemisme untuk kata tua). Saya bertaruh dengan jarum jam yang terus berputar. Saya bertaruh dengan tangal dan bulan yang terus berjalan. Saya bertaruh dengan usia. Sebelum saya menyesal karena harus menuliskan kembali seratus resolusi yang sama pada Agenda yang akan dibeli di awal tahun 2008 nanti.

Selamat Tahun Baru!

[Aries]

Jogja Welcome You

Friday, December 22nd, 2006

Jogja Welcome You

For more infos, please click on the link of Where To Go in the left side of this blog.

Dscn3485 Dscn3522_1

Humh..miris rasanya ketika kemarin pagi, saya membaca Kompas dan menemukan iklan pariwisata Turki. Dengan slogan lugu dan tanpa basa-basi, Turki menuliskan: "Turki menunggu kunjungan Anda!" atau dalam situs resminya (www.gototurkey.co.uk) ditulis "Turkey: Welcome You!).

Lalu kenapa saya miris?

Sebagai mahasiswa ekonomi (jurusan ilmu ekonomi pula), saya mempelajari perekonomian Turki khususnya gonjang-ganjing mata uangnya yang begitu lemah. Dan hey, sekarang Turki sebegitu percaya  diri mengiklankan negaranya untuk dikunjungi. Situs yang menjadi informasi utama itu pun dirancang dengan muatan yang begitu mengundang:
-Play Golf in Turkey
-Yatching
-Magical Wedding in Turkey
bahkan Pamuk (pemenang Nobel Sastra) pun ikut didengung-dengungkan dalam situs tersebut.

Dan Indonesia? Jogja?

www.indonesia.or.id
-Could not locate remote server

www.budpar.go.id
-berisi berita-berita (meski terkait pariwisata) namun sangat kurang memberikan informasi mengenai pariwisata. Lagipula saya pikr sulit untuk menanamkan kata budpar ditelinga orang luar negeri.

www.indonesiatourism.com
-masih kurang atraktif. Yang saya lihat justru iklan dari Telkom, Bank Muamalat, Bank Danamon,…OMG!

www.indonesia-tourism.com
-Nice! Pada halaman pertama menyuguhkan peta Indonesia lengkap dengan link di setiap nama tempat yang kita pilih. Saya coba klik Yogya. Humh…lumayan memberi informasi, tapi sayangnya dikemas mirip buku sejarah…

www.yogyes.com
-Nice! Saya pikir harusnya situs memang dibuat atraktif seperti ini. Untunglah, ketika saya mencoba mengetikan "Yogyakarta+tourism" di google, situs ini ada di urutan pertama.

Sekarang, saya pikir masalah komunikasi (ke luar) dan pengelolaan antar pihak terkait agar pariwisata ini bisa berkembang.

Sebagai catatan: saya pernah mendapatkan 4x pengalaman tidak mengenakan terkait pariwisata di Jogja. Pernah, ketika mengunjungi Tourism Information Center di dekat kepatihan Maliboro, saya dan Turis yang saya dampingi justru disambut muka masam petugas yang (sepertinya) terganggu dari keasyikannya menonton TV.

Masalah keramahan pedagang di Beringharjo pun sempat disinggung turis Itali yang saya dampingi ketika melihat seorang ibu hamil yang dimarahi pedagang hanya karena ia berdiri di depan kiosnya, padahal si ibu baru saja belanja dari si pedagang. Dari intepretasi saya terhadap bahasa jawa yang dilontarkan dengan keras terhadap si ibu, si pedagang berkata: Jangan menghalangi dagangan saya dong. Kalau berdiri di situ lama-lama kan barang saya ketutupan. Nanti yang lain gak mau beli. So, Yogya as the city of tolerance?! Get real! Saya bisa mengerti jika persaingan usaha, kesulitan ekonomi, dan harga beras yang tinggi bisa menaikan tekanan darah.

Tapi kalau sudah gini, siapa yang rugi? Kapan city of tolerance itu akan terbukti? Ya sudah lah… karena Jogja kota budaya, saya mau berpuisi saja: biarkanlah waktu yang akan menjawabnya!

Recap V-TwoPhat BuBar!

Thursday, December 14th, 2006

Pernah membayangkan, bagaimana rasanya menjadi ketua kelas dari sebuah kelas yang berisi 42 (dari 43 murid) enerjik, kelebihan adrenalin, dan kekurangan tatih tayang. Yang setiap hari sabtu, pulang jam 11.00 (seharusnya jam 14.00) trus jalan-jalan ke Kali Kuning atau Prambanan. Yang setiap kelas Kimia langsung jadi sekumpulan anak-anak sariawan (nggak banyak ngomong!). Yang pernah membuat seorang guru membanting buku dan menangis di depan kelas. Yang mengecat tembok belakang kelas dengan gambar Gorillaz, Bart Simpson, dan Samurai X. Coba bayangkan?

Bubar

Sang ketua kelas harus mencari akal bulus, 1001 alasan, dan 1002 perjanjian untuk bernegosiasi dengan wali kelas dan kepala sekolah. Sang ketua kelas juga harus rajin berdiskusi dengan guru sosiologi untuk bisa menghadapi anak-anak yang enerjik tadi. Sang ketua kelas harus mendekati anak-anak enerjik tadi secara personal untuk mendengar keluhannya dan mencoba mengajak bekerja sama untuk menciptakan kelas yang sedikit agak tertib. Pada saat yang sama, sang ketua kelas harus menyelesaikan 2 buah penelitian, ikut berlomba mewakili sekolah ke Jakarta, latihan dan ikut lomba debat bahasa inggris, dan menjadi anggota MPK. Bisa membayangkan rasanya? Jika tidak, tanyakan saja pada saya, karena saya si ketua kelas “so sial” itu.

Bulan puasa lalu, dimulai dengan keisengan ngobrol-ngobrol dan Yahoo Messenger-an akhirnya berkumpul lagi lah anak-anak enerjik tadi. Di angkringan Sebul (yang bikin nasi gorengnya lammmmmaaaaaaa banget dan minumannya dikiiiiiiiiitttttttt bbbbaangggettt! Ga tau apa, adzan tuh udah setengah jam yang lalu!). Ada yang berubah, ada yang tidak. Tapi justru jadi seru mengingat masa jahiliyah….!

  Cimg0772

ket: TwoPhat = Kelas 2.4

Recap IV-UBW: Unilever Brain Wash oopppsss Business Week!

Thursday, December 14th, 2006

Hidup Buaya Darat! Hidup Food4Soul Company!

Sebuah workhop, training, business simulation, dan business game yang  menginspirasi hidup. 1-6 September yang penuh kegilaan. Tak perlu saya ceritakan, cukup lihat gambar-gambar berikut ini!

Ubw A_dooor

Img_0133

Recap II-Panic! at the Jogja

Thursday, December 14th, 2006

Ini saya ingat betul detailnya. Tapi akan saya tuliskan singkat saja. Hari Sabtu, 27 Mei 2006. Tanpa ada firasat sebelum-sebelumnya. Tiba-tiba. Gempa!

Di area terdekat dengan kos saya tidak ada kerusakan yang terlalu parah (‘Hanya’ ada 2 orang mahasiswa yang mengalami patah tulangdi tangan dan lengan karena meloncat dari lantai 2 kost-nya. Panik!). Namun data terakhir mencatat, lebih kurang 200.000 orang tewas dan lebih dari 6.000 rumah roboh.

Saya sempat beberapa kali melakukan peliputan (terutama ketika Presiden berkantor di Istana Agung, Yogyakarta). Banyak bantuan datang, banyak yang membantu dengan ikhlas, banyak yang mementingkan peliputan media atasan bantuan, dan banyak pula yang hanya mengatasamakan bantuan. Menyedihkan memang….

Untunglah banyak juga mahasiswa yang datang membantu dengan ikhlas. Terutama mereka yang datang pada hari-hari pertama bencana [dan bukan mereka yang mendadak menjadi relawan HANYA demi terpenuhinya syarat Kuliah Kerja Nyata!].

Gempa_07_1 Ieandien_01

Iedinda Ietomy_wika

Relawan_02

Recap I-Musim Semi(nar)!

Tuesday, December 12th, 2006

Jujur saja, saya lupa tanggal berapa sebenarnya seminar HIMIESPA ini dilaksanakan. Yang saya ingat adalah judulnya (Seminar Nasional Perpajakan 2006) dan posisi saya (Sie Acara). Humh…3 bulan yang diisi dengan rapat-rapat. Menelepon pembicara dan dewan juri untuk lomba karya tulis. Melelahkan, tapi ketika semua berakhir…hmmmhhh…segar…seperti munculnya bunga-bunga di musim semi! Aha…romantisnya!