Jogja Welcome You
Jogja Welcome You
For more infos, please click on the link of Where To Go in the left side of this blog.
Humh..miris rasanya ketika kemarin pagi, saya membaca Kompas dan menemukan iklan pariwisata Turki. Dengan slogan lugu dan tanpa basa-basi, Turki menuliskan: "Turki menunggu kunjungan Anda!" atau dalam situs resminya (www.gototurkey.co.uk) ditulis "Turkey: Welcome You!).
Lalu kenapa saya miris?
Sebagai mahasiswa ekonomi (jurusan ilmu ekonomi pula), saya mempelajari perekonomian Turki khususnya gonjang-ganjing mata uangnya yang begitu lemah. Dan hey, sekarang Turki sebegitu percaya diri mengiklankan negaranya untuk dikunjungi. Situs yang menjadi informasi utama itu pun dirancang dengan muatan yang begitu mengundang:
-Play Golf in Turkey
-Yatching
-Magical Wedding in Turkey
bahkan Pamuk (pemenang Nobel Sastra) pun ikut didengung-dengungkan dalam situs tersebut.
Dan Indonesia? Jogja?
www.indonesia.or.id
-Could not locate remote server
www.budpar.go.id
-berisi berita-berita (meski terkait pariwisata) namun sangat kurang memberikan informasi mengenai pariwisata. Lagipula saya pikr sulit untuk menanamkan kata budpar ditelinga orang luar negeri.
www.indonesiatourism.com
-masih kurang atraktif. Yang saya lihat justru iklan dari Telkom, Bank Muamalat, Bank Danamon,…OMG!
www.indonesia-tourism.com
-Nice! Pada halaman pertama menyuguhkan peta Indonesia lengkap dengan link di setiap nama tempat yang kita pilih. Saya coba klik Yogya. Humh…lumayan memberi informasi, tapi sayangnya dikemas mirip buku sejarah…
www.yogyes.com
-Nice! Saya pikir harusnya situs memang dibuat atraktif seperti ini. Untunglah, ketika saya mencoba mengetikan "Yogyakarta+tourism" di google, situs ini ada di urutan pertama.
Sekarang, saya pikir masalah komunikasi (ke luar) dan pengelolaan antar pihak terkait agar pariwisata ini bisa berkembang.
Sebagai catatan: saya pernah mendapatkan 4x pengalaman tidak mengenakan terkait pariwisata di Jogja. Pernah, ketika mengunjungi Tourism Information Center di dekat kepatihan Maliboro, saya dan Turis yang saya dampingi justru disambut muka masam petugas yang (sepertinya) terganggu dari keasyikannya menonton TV.
Masalah keramahan pedagang di Beringharjo pun sempat disinggung turis Itali yang saya dampingi ketika melihat seorang ibu hamil yang dimarahi pedagang hanya karena ia berdiri di depan kiosnya, padahal si ibu baru saja belanja dari si pedagang. Dari intepretasi saya terhadap bahasa jawa yang dilontarkan dengan keras terhadap si ibu, si pedagang berkata: Jangan menghalangi dagangan saya dong. Kalau berdiri di situ lama-lama kan barang saya ketutupan. Nanti yang lain gak mau beli. So, Yogya as the city of tolerance?! Get real! Saya bisa mengerti jika persaingan usaha, kesulitan ekonomi, dan harga beras yang tinggi bisa menaikan tekanan darah.
Tapi kalau sudah gini, siapa yang rugi? Kapan city of tolerance itu akan terbukti? Ya sudah lah… karena Jogja kota budaya, saya mau berpuisi saja: biarkanlah waktu yang akan menjawabnya!