Resolution Theory

I love the new year season. Well, call me sentimental. But, the recalling memories just rip at my heartstrings. I wonder what this next year will hold for me?

Tahun Baru!

Selain ikut serta dalam hingar bingar pesta beserta trompet dan Fireworkskembang apinya, membeli Agenda baru adalah rutinitas yang mutlak dilakukan terkait acara Tahun Baru. Sebundel kertas pengingat tempat mencatat jadwal meeting dengan si Bos, olahraga, janji dengan rekan sekelompok, rencana liburan, nomor telepon narasumber (atau sesorang yang baru saja ditemui saat makan siang di Taman Sari Foodcourt?!), dan lain-lainnya. Dan biasanya berderet-deret rencana positif mulai dituangkan sebagai target operasi tahun depan. Resolusi.

Agenda lama yang berisi seratus resolusi yang dituliskan awal tahun lalu mulai dievaluasi dan dinilai. Bagaimana hasilnya? Bisa jadi terpenuhi, bisa tidak. Sudahkah kadar suicidal tendency berkurang? Berbahagialah jika iya. Jika tidak? Maka ini adalah saat yang tepat untuk menuliskan kembali seratus resolusi itu.

My_wrist Entah kenapa tahun baru seolah memiliki spirit tertentu untuk memulai hari baru. Rencana baru. Perilaku baru. Trend baru. Intinya, perubahan. Seolah menjadi momentum tepat dalam mengambil suatu keputusan. Saya sendiri berjanji untuk lebih banyak membeli dan membaca buku yang dapat menjadi asupan otak saya (sekaligus referensi skripsi). Saya juga berjanji untuk mengurangi kuantitas sayatan silet di pergelangan tangan saya (sebelum saya nanti meninggal wajar namun dianggap pecandu narkoba!). Saya janji untuk berubah.

Tak mudah memang. Terlebih jika harus meninggalkan zona nyaman. Euro_1 Orang-orang di 12 negara Eropa mengganti mata uangnya dengan Euro pada 1 Januari, 3 tahun lalu. Bukan tanpa masalah, karena perlu adaptasi. Mengurangi rokok konon bisa membuat mulut terasa asam. Membaca buku lebih banyak berarti membuat saya harus menyediakan lebih banyak kopi. Ada resiko memang. Tercapai atau tidak? Just wait and see! Tapi setidaknya saya menuliskannya pada Agenda baru saya sebagai pengingat.

Tahun baru adalah sebuah pijakan untuk bisa lebih maju. One step ahead, at least. Many steps, better. Posisi di kantor harus promosi lagi (kapan Bos, saya jadi redaktur madya?). Kurangi minum minuman bersoda. Kurangi begadang (kecuali ada deadline mendadak!). Ngobrol gak jelas dibatasi hanya pas weekend saja. Eitsss…..apa nggak kebanyakan? Gimana kalau semuanya nggak tercapai? Ini semua bergantung pada niat, bung. When there is a will, there is a way. Jadi, kenapa tidak mencoba.

Yang pasti, ada satu tanggal yang patut diberi tanda dalam Agenda baru saya. Hari Ulang Tahun. Untuk sekedar mengingatkan saya, bahwa menjalani tahun depan memerlukan lebih pertanggungjawaban. Saya bertambah dewasa (eufemisme untuk kata tua). Saya bertaruh dengan jarum jam yang terus berputar. Saya bertaruh dengan tangal dan bulan yang terus berjalan. Saya bertaruh dengan usia. Sebelum saya menyesal karena harus menuliskan kembali seratus resolusi yang sama pada Agenda yang akan dibeli di awal tahun 2008 nanti.

Selamat Tahun Baru!

[Aries]

One Response to “Resolution Theory”

  1. Dian Says:

    Aries, what do you mean when you wrote this on your post?

    “Saya juga berjanji untuk mengurangi kuantitas sayatan silet di pergelangan tangan saya (sebelum saya nanti meninggal wajar namun dianggap pecandu narkoba!). Saya janji untuk berubah.”

    You referred to Alda’s case, didn’t you?

Leave a Reply