Archive for January, 2007

Le Grande Voyage

Wednesday, January 3rd, 2007

Seeing a magnificient universe such as that makes me feel like insignificient speck.

Duration: 108’ (19.00-20.48 WIB)

Date: Januari 3, 2007

Setting: LIP Yogyakarta

Cast: Aries

Akhirnya, setelah sempat melihat resensinya di majalah a+, kesampaian juga cita-cita untuk menonton film Le Grand Voyage [directed by Ismael Faroukhi]. Entah kenapa, meski hanya membaca resensinya, saya merasa film ini akan menjadi film yang bagus. Mungkin kalimat “perjalanan seorang ayah dan anak” pada resensi itu melekat di pikiran saya. Maklum, saya juga pernah mengalami.

Film ini bercerita tentang seorang anak, Reda [roled by Nicolas Cazale], yang diminta ayahnya [roled by Mohamed Majd]untuk mengantarkannya dari Perancis ke Saudi Arabia dengan menggunakan mobil tua, untuk menunaikan kewajiban sang ayah sebagai muslim-naik haji. Tentu bukan perjalan yang datar tanpa konflik. Perjalanan yang dilalui mulai dari Perancis Selatan, Italia, Turki, Yugoslavia, Lebanon, Syria, dan negara-negara lain hingga akhirnya Saudi Arabia melibatkan konflik antara sifat keras kepala Reda dan sikap diam sang ayah.

Selain itu, Ismael juga menyisipkan konfik antara mereka dengan orang-orang yang mereka temui di perjalanan. Seorang ibu yang menumpang tanpa pernah bicara, Mustapha sang calon haji yang berpoligami sekaligus mabuk-mabukan, atau pengemis di gurun pasir. Tak jarang, konflik sisipan ini menambah parah jarak di antara mereka. Namun kalau saya lihat, konflik sisipan ini justru menjadi jembatan antara mereka berdua untuk kemudian membuka komunikasi. Kurangnya komunikasi adalah satu hal yang menjadi sumber konflik internal mereka sendiri. Satu hal yang juga pernah (dan mungkin sedang) saya alami.

Konflik internal Reda dan sang ayah memang lebih dikarenakan tidak Le_grand_voyage adanya komunikasi. Saya pikir ini masalah lintas generasi yang menimbulkan kesenjangan-generation gap. Reda adalah peran anak muda yang kadang merasa sok tahu segala hal tentang hidup (*gue banget!*). Coba perhatikan salah satu ungkapan sang ayah terhadapnya: “you know how to write and read. But you know nothing ‘bout life!”. Sementara sang ayah adalah refleksi generasi kolot yang TERLALU resisten terhadap perubahan zaman. Hal ini ditunjukan ketika sang ayah membuang telepon genggam milik Reda.

Rekonsiliasi mulai terbina setelah banyak konflik besar mereka lalui seiring perjalanan sejauh 3000 mil tersebut. Terlihat sikap keras kepala Reda melunak dan sikap diam sang ayah mencair ketika Reda bertanya pada ayahnya di satu saat. Sang ayah yang sedang bertayamum kemudian menghampiri Reda, duduk di sebelahnya, dan membuka percapakan (meski sangat singkat).

Satu saat, Reda terbangun di tengah gurun pasir dan mencari sang ayah yang hilang. Sang ayah kemudian datang dengan domba-domba gembalaan dan pergi melewatinya tanpa mengacuhkannya. Reda memanggil-manggil sang ayah namun sang ayah terus pergi. Reda kemudian terserap oleh pusaran gurun pasir. Dan, Reda ternyata bermimpi. Ketika ia terbangun, sang ayah sedang melaksanakan shalat.

Film ini memang kental dengan suasana Islam dan kehidupan penganutnya. Digambarkan bagaimana seorang calon haji bisa begitu marah dan hampir saja tidak mau memaafkan anaknya yang melakukan kesalahan. Digambarkan pula sng anak-yang sama sekali tidak religius- mengingatkan sang ayah bahwa Islam juga memuat ajaran untuk memaafkan. Bagi saya, cerita ini mengingatkan bahwa kita membutuhkan satu sama lain untuk saling mengingatkan. Because nobody’s perfect. So do I.

(*kalau Aa Gym membaca blog ini, beliau juga mungkin mengirim comment: Aa setuju AriEs. Kita semua manusia punya khilaf. Aa juga manusia. = D*)

Kembali ke film. Singkat cerita mereka sudah mulai bisa berekonsiliasi ketika sampai di Saudi Arabia. Di sebuah terminal bus menuju Mekah mereka berpisah. Reda menunggu kepulangan sang ayah beberapa hari kemudian. Namun saat rekan-rekan sepemberangkatan sang ayah pulang, sang ayah tidak ada dalam rombongan. Ia terus menunggu hingga malam. Sampai kemudian, kejadian dalam mimpinya seolah menjadi nyata. Ada seorang tua dengan domba-domba gembalaan melewatinya. Reda mencoba memanggilnya, namun ia tidak diacuhkannya.

Reda kemudian menyusul hingga Mekah. Film ini menggambarkan suasana Mekah ketika musim haji berlangsung, dan Reda ada ditengah-tengah mereka. DItunjukan betapa kecilnya manusia ketika berjuta-juta umat mengelilingi Kabah. Seeing a magnificient universe such as that makes me feel like insignificient speck. Reda terlihat menyelinap di antara jejalan jemaah hingga akhirnya ditangkap karena dianggap membuat keonaran (ia masih menggunakan T Shirt dan jeans saat jemaah lain hanya menggunakan pakaian ihram).

Reda kemudian dituntun memasuki kamar mayat jemaah. Satu persatu kain kafan dibuka, hingga kemudian ia menemukan ayahnya di sana. Scene ini menjadi puncak dari film ini. Menyaksikan seorang anak yang begitu stubborn menangis di samping jenazah sang ayah. Sekali lagi, ditunjukan betapa kita selalu memerlukan orang lain-bahkan orang yang selama ini bertengkar dengan kita.

Reda kemudian diceritakan pulang dengan menjual mobilnya. Namun perjalanan itu telah membuahkan perubahan dalam dirinya. Sosok anak muda yang keras kepala itu kini menjadi dewasa. Scene terakhir yang ditunjukan adalah sesaat Reda sebelum naik taksi, ia memberi sedekah pada seorang peminta-minta di jalanan (padahal ia pernah bertengkar hebat dengan sang ayah ketika sang ayah memberika sedekah pada pengemis di gurun pasir).

Ketika film usai dan tempat pemutaran menjadi terang, tampak semua penonton (lebih kurang 30 orang) tampak menangis-termasuk saya = D. Barangkali karena moment-ya tepat, saat orang tua saya juga sedang berhaji saat ini. What an eerie sensation….. I grapple with my (recently) greatest fear: loneliness….!

Regards,

Aries