Recap I-Musim Semi(nar)!

December 12th, 2006 by ariessetya

Jujur saja, saya lupa tanggal berapa sebenarnya seminar HIMIESPA ini dilaksanakan. Yang saya ingat adalah judulnya (Seminar Nasional Perpajakan 2006) dan posisi saya (Sie Acara). Humh…3 bulan yang diisi dengan rapat-rapat. Menelepon pembicara dan dewan juri untuk lomba karya tulis. Melelahkan, tapi ketika semua berakhir…hmmmhhh…segar…seperti munculnya bunga-bunga di musim semi! Aha…romantisnya!

2006 is all about…..

November 22nd, 2006 by ariessetya

The Greatest Things of 2006

May 27th Earthquake

Jangan salah paham dulu! Bukannya saya senang dengan adanya gempa, tapi hikmah dibalik gempa itu yang saya pikir em…great! Malam pertama setelah gempa benar-benar memberikan impresi bagi saya. Bermalam May_27thdengan ratusan orang di sebuah lapangan (dengan alas Koran dan atap lagit dan bintang-bintang!) merupakan keistimewaan yang sulit terulangi.  Bagaimana tidak, seorang anak muda dengan Honda Jazz-nya, Motor-motor dengan plat non AB, Penduduk aseli Jogja, dan Mahasiswa yang biasa ajep-ajep, dan saya tentunya…tidur bareng-bareng….. Kekeluargaannya itu loh. Kapan lagi coba!

Opera Jawa: the movie (A Requiem from Java: the movie)

Alhamdulillah! I feel so lucky to have an opportunity to watch this movie.

GarinPssst…bahkan saya menontonnya sebelum The World Premiere film ini pada Jogja NETPAC Asian Film Festival. Humh…saya menontonnya pada saat screening-test film ini untuk world premiere-nya hehehe!

Film ini seru…karena semua dialog dibuat menjadi tembang jawa (hanya ada satu tembang berbahasa non-jawa, yakni Requiem yang ditembangkan oleh Maestro Tari, Ibu Retno Maruti). Cerita cinta segitiga Rama, Sinta, dan Rahwana yang diadaptasi di film ini pun tidak ditelan mentah-mentah. Garin Nugroho justru “memelesetkan” kisah kuno ‘Sinta yang di culik Rahwana dari Rama’ menjadi ‘Sinta melarikan diri dari Rama untuk mencari Rahwana karena Rama sudah tidak mampu memberikannya nafkah lahir dan batin’.

Opera_jawaMbak Artika Sari Devi (sebagai Sitti), Bapak Miroto (sebagai Setyo), dan dan Mas Eko S (sebagai Ludiro) berperan secara keren. Sayangnya di Festival Film Indonesia 2006, film ini miskin nominasi.

Memang film ini sulit dicerna bagi orang yang berbahasa non-jawa. Tapi ada yang unik, yaitu sebuah tembang Jawa yang dinyanyikan Dalang Edan, Slamet Gundono dengan irama Jazz dan teknik vokal yang soulful! Javanesse Jazz, a new wave?

Dialog by Umar Khayam

DialogIni adalah sebuah buku kumpulan esai Bapak Umar Khayam di berbagai media massa, mulai tahun 1980’an hingga sebelum 2002 (tahun beliau meninggal). 

Thanks to Mikael Johani dan Penerbit Metafora yang mau mengumpulkan serpihan-serpihan karya yang kritis, cerdas, bernas, dan Umar Khayam banget-yaitu nyeleneh!

Rekomendasi: Baca tulisan Umar Khayam tentang Jam Karet di buku ini, yang diambil dari Kompas tahun…… 1985… Bayangkan, lebih dari dua dekade setelahnya pun, penyakit ini masih eksis!

Tetralogi Buru by Pramoedya A. T.

Setelah sebelum-sebelumnya sulit dicari-kecuali bagi yang memiliki edisi lama, bahkan teman saya sampai membuat copynya-, akhirnya Tetralogi Buru terbit lagi (oleh Lentera Dwipantara). Meski yang terbit baru 3 seri (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah), keberadaan kembali buku ini jadi incaran koleksi. Patut Dibaca!

Konser Untukmu Negeri by Anggun

LuminesenseKonser terbaik tahun ini!

It does have an international concert standard. No wonder….it’s Anggun.

The sound, the singer, the band, Jay Subiyakto, and “Sang Saka Merah Putih” in the end of the concert.

Terharu!

*mengambil tissue*

SBY as a Nominee for Peace Noble 2006

Meski nggak menang, penyebutan nama SBY (Indonesia) dalam bursa calon penerima Nobel Perdamaian menjadi topik baru bagi perbincangan saya dan rekan saya yang berasal dari luar negeri-setelah sebelumnya hanya berkutat pada This Earth of Mankind-nya Pramoedya A. T., Anggun, Restoran Indonesia at Paris, dan Avian Influenza :-).

Indonesia Physic Olympiad Team

Salute for Prof. Yohannes Surya!

Article On Reader’s Digest Indonesia, August Edition

Rdi_6Ini si subjektif BANGET!

Artikel saya akhirnya dimuat di Reader’s Digest Indonesia.

Sebenarnya ini "tulisan" iseng di kepala saya pada jam-jam pertama gempa, ketika saya membantu Budi (salah satu narasumber saya di tulisan ini) dan rekan-rekan PALMAE menggulung peralatan evakuasi dan menyiapkan air mineral. Untunglah saya kemudian bertemu dengan beberapa rekan-rekan hebat (yang pada akhirnya saya jadikan narasumber) yang mau bersusah payah menjadi relawan (pada saat yang sama ketika rekan-rekan saya yang lain, justru LARI ke luar kota).

Next Year, masuk Reader’s Digest Asia dong!

The Worst Things of 2006

Israel on Lebanon

No comment!

Brainless beauty #1: Nadine

NadineBagi banyak orang, “Indonesia is a beautiful city” adalah mimpi buruk.

Bagi saya “Mother Theresa is my admirer” dan “Indonesia has a lot of beautiful B*tches” jauh lebih buruk.

Masalahnya adalah ia pernah mengaku lancar berbahasa Inggris dan Jerman. Lha, buktinya apa?

Sebenarnya cukup menggelaikan juga ketika ada seseorang menuliskan bahwa hadirnya Nadine di Miss Universe memang mengundang orang untuk tahu lebih banyak tentang Indonesia. Ya, tapi sayangnya dengan cara yang justru menjatuhkan citra Indonesia.

Btw, i read on detik.com that she wrote a book…I haven’t read the book, but I’m not sure she write it by herself. Maaf ya Nadine…

Brainless beauty #2: Mulan and Maia

RatuTentang dipaksa turun panggung saat Kongres Partai Demokrat (karena menyebutkan “Bapak Bambang Susilo Yudhoyono (BSY?!) dan Saudara Gus Dur) sudah banyak dimuat media. Tapi ada satu lagi yang bodoh: saat Ulang Tahun Bursa Efek Jakarta. Saat Maia dengan PD-nya menyodorkan mic kepada seorang Chairman sebuah perusahaan sekuritas yang duduk disamping Menteri Keuangan dan bertanya: ‘Bapak tahu sekarang acara apa?’. Si Bapak menjawab: ‘Ultah BEJ’. Maia kemudian menimpali lagi: ‘Benar!’

OMG, kok kelihatan…(maaf, mbak Maia)…bodoh.

Aduh neng Wulansari dan mbak Maya…baca Kompas atuh!

The Argument of The Sexiest Woman 2006 (FHM Indonesia Version)

Terserah jika FHM akhirnya menentukan Cut Tari sebagai Indonesia’s sexiest woman of 2006. Tapi alasan Cut Tari terpilih karena ia pembawa acara infotainment Insert kok agak aneh ya?! Apa pembaca FHM adalah penonton setia acara gossip itu? Aneh…kapan ya FHM menggeser pangsa pasarnya?!

Demo menentang Playboy

Playboy_indonesiaInkonsistensi paling kasat mata yang pernah ada. Cover Playboy hanya menunjukan muka Andhara sementara rival Playboy: FH%, MA$IM, POPUL^R yang memasang perempuan ber-swimsuit ria sebagai cover sama sekali tidak digugat. Harusnya pemrotes membaca, bukan hanya melihat namanya. Saya sempat membaca Playboy Edisi Juli 2006 dan menemukan isi majalah ini berbobot: artikel tentang sampah di Bandung.

Dunia Tanpa Koma

The most dissapointed things! Sudah membuat saya kapok hanya dengan nonton satu episode saja. Tadinya saya pikir, cerita tentang watawan akan memberika cerita yang BEDA dari DTK. Tapi apa hasilnya? Dian Sastro terlihat tidak mendalami peran Raya, seorang lulusan University of New York, bidang Feminisme pula! Fauzi Baadila mungkin tidak terjun langsung mencoba jadi wartawan. Hal ini terlihat dari gaya dia ketika mendapat kesempatan ekslusif meliput penangkapan seorang artis yang terlibat narkoba. Fauzi terlihat mengangkat kamera sampai ke atas kepalanya untuk memotret, padahal sebagai satu-satunya wartawan dia harusnya memotret secara frontal langsung. Toh dia nggak saling sikut dengan wartawan lain. Tora Sudiro dan Indra Birowo pun terlihat terlalu bergaya Extravaganza (dibaca: slapstick.ed). Sampai pada akhir episode itu menunjukan Raya diguyur sebotol minuman ber-merk karena berhasil mewawancarai Mariana Renata, padahal pada beberapa scene sebelumnya ada rekan Raya yang mengatakan: ‘gaji wartawan tuh nggak seberapa’. Lalu, kok bisa foya-foya? Wartawan amplop?

1, 2, 3 = Milyarder

Selalu ada pemenang duit milyaran itu, setelah beberapa lama (dan mungkin setelah rating-nya turun). Modus operandinya tercium!

Tommy Soeharto

15 tahun = 4 tahun 3 bulan. Tidak ada rumusnya!

National Seminar of Management Event 2006 on CSR (Corporate Social Responsibility): Integrating Social Aspect into the Business

Maafkan saya kawan….! Pengelolaan seminarnya bagus. Saya yang datang terlambat pun masih dilayani dengan senyuman. Tapi isinya itu loh…. Masa iklan terus. Ini kan seminar, bukan ajang cuci otak dari sponsor iklan sabun! Jujur saja ini mengecewakan. Harusnya tema CSR yang sedang in dapat menimbulkan dialog. Tapi yang terjadi hanya monolog. It was only covering one side. Saya mengharapkan ada pihak yang kritis (misal WALHI atau WWF). Yang ada hanya perusahaan, perusahaan, perusahaan, dan pembicara dari Departemen Lingkungan Hidup yang TERLALU Pro Perusahaan. Tiket seharga Rp25 ribu pun nggak break even point dengan ilmu yang di dapat! Sama saja saya baca SWA!

Peace!

AriEs (",)v

note:

Semua argumen adalah murni pendapat saya pridadi. Punya pendapat beda? Monggo!

Gambar koleksi pribadi & dok. internet.

Sebuah Pesan Singkat

November 21st, 2006 by ariessetya

Yogyakarta
Senin, 20 November 2006
23.42 WIB

"Rasa itu kembali datang. Menyelinap di antara bebatuan yang kususun antara aku dan kamu. Kamu, masih ingat aku, Es?
Re####"

So Little Time, So Much To Do

November 12th, 2006 by ariessetya

So Little Time, So Much To Do

Uhm, it’s an Arkarna’s Song. I listen to this song today on the radio. Yes, it’s on after-hits airtime. It’s so me…so me…so little time, so much to do…plus so much procrastination!

-E-

“B” Untuk Bandung

November 1st, 2006 by ariessetya

Ketika masih duduk
di kelas 1 SLTP, saya pernah mewakili Kabupaten dalam Lomba Cerdas
Cermat yang diadakan oleh IAIN Sunan Gunung Djati di Bandung. Salah
satu pertanyaan yang diajukan adalah: “Apa tanda kendaraan bermotor
untuk wilayah Bandung?”. Jawaban saya dan tim tentu saja “D”.
Namun seandainya pertanyaan itu diajukan kepada saya sekarang ini,
jawabannya bisa jadi “B”.

27102006001

Beberapa hari yang
lalu saya menghabiskan sisa libur Lebaran ini dengan berjalan-jalan
ke seputaran Kota Bandung. Bukan niat yang disengaja, namun lebih
karena paksaan istri sepupu saya, sebut saja Bunga (bukan nama
sebenarnya.red), yang minta ditemani-berhubung sang suami, Kumbang
(bukan nama sebenarnya.red), sibuk dengan showroom dan bengkelnya
yang kata orang Sunda sedang marema karena banyaknya pemudik
melakukan servis atau sekedar memeriksa kestabilan kendaraan mereka.

Tujuan pertama acara
Jalan-jalan sore itu adalah Jalan LL RE Martadinata. Suatu sentra
Factory Outlet (FO) di kota Bandung. Belum kami sampai pada tempat
yang dituju jalanan sudah MACET. Ya, MACET! Mobil tidak lagi merayap,
tapi benar-benar macet. Selain sesak dengan pedagang bakso dan es
campur, jalan yang tidak terlalu lebar pun semakin sempit karena
mobil-mobil ada pula yang nekat di parkir dengan menyita badan jalan.
Pfuih…. Saya kemudian melihat gedung-gedung sekitar melalui kaca
pintu mobil untuk sekedar mengalihkan perhatian. 18th
Park, De Coral, China Emporium, Summit, Island, dan….lain-lain.
Gedung yang menarik perhatian saya adalah Heritage. Saya kira ini
semacam bangunan peninggalan Belanda yang dijadikan museum, tapi
perkiraan saya salah. Heritage juga adalah sebuah FO. FO lagi, FO
lagi. Saya pun mulai mengalami mata lelah. Alias ngantuk. Mobil hanya
begerak per sekian menit.

Mata saya sempat
terbuka ketika melihat sebuah papan bertuliskan ‘Bale Anak, FO-nya
anak-anak”. Wow…sebegitu parahnya kah demam FO, hingga anak-anak
merasa perlu FO sendiri? Apa nggak terlalu dini buat menyebar virus
konsumtifisme? Bunga kemudian menimpali komentar saya. “Ya, nggak
gitu kali Yes. Biar Ibu-ibu lebih gampang aja nyari baju buat
anak-anaknya. Yang belanja kan ibu-ibu juga, bukan anak-anak”. Saya
ngangguk-ngangguk aja meskipun ingin terus berkomentar. Saya pernah
ngobrol dengan anak sepupu saya yang tinggal di Jakarta. Si anak
rupanya sudah disiapkan untuk jadi artis cilik-dengan ikut les vokal
dan kursus akting. Ketika saya tanya si anak tentang hobinya, ia
menjawab: Shopping sama nyalon. What?! Anak usia 5 tahun dengan hobi
Shopping. Yang salah ibunya atau penyedia arena konsumtifisme (jika
hedon dirasa terlau kasar) anak? Buat saya tetap saja, FO khusus anak
kok agak berlebihan ya… Tapi sudahlah, saya memilih diam. Diamnya
saya mulai berpengaruh pada kondisi otak yang mulai melemah dan mata
yang mulai meredup. Sampai kemudian….

“Polisi-nya
ganteng bangettt!”

Hahhhh…mata saya
bukan hanya terbuka, tapi membelalak, ketika mendengar Bunga setengah
berteriak mengucapkan kalimat di atas. Gila, istri sepupu saya berani
berkomentar seperti itu di hadapan saya. Ini pengkhianatan janji
pernikahan! Saya protes! Tapi dengan santai istri saya malah
berkomentar lagi: “Polisi tuh emang harusnya gini. Ganteng-ganteng,
gagah-gahah, biar penumpang gak bete kalo jalan lagi macet!”

Ni Bunga gila kali
ya…

“Setuju gak?” ia
malah kemudian bertanya.

Saya menjawab asal:
“Kalo Polwan-polwan mukanya kayak Mariana, rok-nya sejengkal di
atas lutut, pake tank-top: Setuju!”

“Iyes, ngeres ni
pikirannya. Lebaran baru berapa hari juga…”

“Lah..situ yang
udah kawin masih juga nengok cowok lain. Polisi lagi…”

Bunga diam.

Saya diam.

Saya mulai mengamati
mobil-mobil yang ada di sekitar. Humh…rupanya banyak pendatangnya
dibandingkan orang Bandung sendiri. Plat nomor yang berkeliaran
adalah B, B, B, dan B. Mobil Escudo yang kami kendarai pun serasa
jadi turis di rumah sendiri-alias plat D sendiri. Kalaupun ada selain
B, ya F dan F. Plat D hanya saya temui di sepeda motor (yang kata
Bunga, udah mirip laron) dan angkot yang hanya sesekali lewat.

27102006003

Sampai di FO yang
dituju, Bunga berbelanja dan saya memilih untuk menikmati segelas Es
Campur…. Nyes….

Selesai si Bunga
belanja (ternyata hanya mengambil sebuah tas yang sudah dipesan
sebelum Lebaran), saya mulai merajuk untuk minta makan. “BMK aja
ya…?”

Saya mengangguk aja
sembari menyerahkan kunci mobil.

Mobil pun jalan,
katanya menuju BMK (Bakso Malang Karapitan.red). Sampai di sana,
jangankan makan Bakso, parkir pun gak kebagian tempat. Saya harus
lebih lama menahan lapar, karena sebelum kami menuju tempat makan
alternatif, Tante saya a.k.a mertua Bunga menelepon untuk belanja di
hypermart. Maka final destination pun berubah menjadi Bandung Super
Mall (BSM).

“Makan di sana
sekalian aja ya?!”

Saya sih nge-iya-in
aja. Lapar……!!!

Mobil kali ini
lumayan bisa merayap menuju BSM. Di Mall ini pun parkir ternyata
susah didapat. Keliling, keliling, keliling, baru dapat parkir. Masuk
ke Mall, saya memisahkan diri mencari tempat makan. Tapi yah, gak
bias makan juga. Kursinya sudah terlanjur dipenuhi 2 golongan.
Golongan 1 adalah keluarga yang bertamasya ke Mall dan menguasai
kursi-kursi meski hanya beli ice cream untuk si anak. Golongan 2
adalah mojang-bujang-jajaka-kawula muda Bandung dan sekitarnya yang
seliweran dengan seragam Abad 21: cewek celana hipster, cowok kaos
polo printed. Saya pun kembali menyerah. Kini, saya membeli BreadTalk
dan memutuskan untuk memakannya di dalam mobil di parkiran.

27102006004

Iseng sambil makan
roti, saya kembali mengamati mobil-mobil di sekitar. Plat B, B, B,
dan B lagi. Bahkan B dengan Plat
Merah… Hayoh… Ni PNS masih aja gak tau malu… Saya di mana sih? Bandung kan. Tanda kendaraan
bermotornya udah ganti “B” ya?! “B” untuk Bandung. “B”
untuk BreadTalk…Halah…

-E-

Let’s Get Suicide!

October 16th, 2006 by ariessetya

October 17, 2006.
06.02 AM
Click Clock!

I’m thinking of my friend who has just sent me a message. He said he was lonely and wanted to get suicide. I was shock, the replied the message asking why. He replied and said that he has no friend to share…

I was confuse wheter I had to be angry or happy. I was angry coz he didn’t consider me as his friend so far. And I was happy to know that I had someone feeling the same with me.

I replied the message again, type: "Let’s get suicide ndi!"

-no reply-

ariEs

Blue Thursday

October 10th, 2006 by ariessetya

BluE Thursday

Her: Aku pikir penjelasanku bisa bikin kamu berubah. Ternyata gak. Aku menyerah. Aku di pihak yang lemah.

Him: Kamu salah. Kamu gak lemah. Kamu kuat, cuma harus berani ambil tempat. Berani juga nanggung akibat.

Her: Aku udah ambil tempat bahkan nanggung akibat. Tapi gak ada hasil. Karena KAMU GAK MAU NGERTI!

Him: YA, AKU GAK BISA NGERTI. Gak ngerti kenapa kamu maksa aku untuk selalu ngertiin kamu. Aku harus bilang, kalo untuk yang satu ini kamu terlalu egois.

Her: Bukan egois. Aku cuma ngerasa udah banyak berkorban…

Him: (what..?) voice inside heart

Her: …Tapi kamu gak mau berkorban buat aku, untuk masalah ini. Aku butuh sedikiiiit aja pengorbanan kamu buat aku.

Him: Karena masalah ini vital. Bukan cuma aku dan kamu yang terlibat. Tapi juga agama kita. Ini kaitannya sama Tuhan…

Her: Kayaknya kamu selalu pakai alasan itu untuk nolak aku. Ada alasan yang lebih kongkrit? Aku terlalu jelek buat kamu?

Him: Bukan itu alasannya…. Sudahlah…jangan melebarkan masalah!

Her: quiet

Him: turn back and go

Her: cries

Him: (I hope you understand!) voice inside heart

-E-

My Funny Lil Kid and (not funny) Me

October 6th, 2006 by ariessetya

I want to fly like them!, he shouted. Ia menunjuk pada
anak-anak yang sedang bermain mini roller-coaster di sebuah Mal yang kami
kunjungi sore itu.

You will, but we should buy a story book for you first.

Kan

itu tujuan kita ke
sini!, ujar saya sambil tersenyum padanya.

Tapi setelah beli buku, you promise me that I can fly like
them?

Okay…., I nodded. Sebenarnya saya tidak yakin saya akan
menepati janji itu. Tapi mau bagaimana lagi, daripada dia nangis di Mal. I was
also afraid I would look like a stupid immature father. Sebuah apologi.

 

The lil kid pun akhirnya meraih tangan kanan saya dan
menarik saya untuk masuk ke sebuah toko buku. Ia berlarian di antara buku
anak-anak yang bergambar Sponge Bob. Humh..seharusnya saya tidak mengizinkan
dia menonton tokoh kartun itu. Efek negatifnya terbukti ada. Ia senang mengucapkan
‘Dasar Bodoh’ pada setiap orang atau hal yang dia tidak senangi. Saya sudah
coba menegurnya dan tidak berani ia mengucapkan frasa itu di hadapan saya. Tapi
toh ketika ia bermain dengan teman sekolahnya, frasa itu sering kali muncul
kembali. Menyesal memang tiada guna, lagi pula saya membiarkan ia menonton busa
kuning itu karena saya sibuk. Sibuk mencari uang untuk ia (dan kuliah saya
tentunya). Lagi-lagi sebuah apologi.

 

‘Can I have both of them?’ ia menunjukan dua buku cerita
bergambar.

Saya membolak-balik halaman buku-buku itu. Perlu di-cek.
Sekarang ini banyak buku anak yang tidak diawasi isinya. Pernah satu kali saya melihat
buku cerita bergambar dengan tokoh kucing beraksi ala Zorro dan membunuh tikus
dengan pedangnya. Gambar yang diperlihatkan tidak hanya perut tikus yang
tercerai berai tapi juga gambar si kucing yang memakan tikus

malang

itu. Gila…buat saya ini jauh lebih
berbahaya dibanding

mengucapkan ‘Dasar Bodoh!’. Setelah di-cek dan hasilnya
nihil, saya pun menganguk.

 

Sekarang ia menarik tangan kanan saya lagi dan menarik saya
ke kasir untuk membayar.

‘Wait a minute Kak (I call him Kakak karena berencana
memberikannya Adik)!’ I said to him. Saya pun mengambil National Geographic
edisi baru dan mencoba menunjukan gambar sampul (seekor Gajah) kepadanya. ‘It’s
cute, isn’t it?’.

‘Nggak!’ ujarnya ketus.

Saya membalasnya dengan muka cemberut.

Ia pun tertawa terbahak. ‘Papa’s like a clown,’ he said. Ia
menarik tangan saya lagi.

Saya pun mengambil satu National Geographic dan mengikutinya
ke kasir.

 

Selepas dari kasir saya bertanya padanya. ‘Lapar gak?’

Ia mengangguk sembari membaca salah satu buku yang baru
dibeli.

‘Mau makan apa?’

‘Terserah’

‘Bakso?’

‘Ya’

Kami pun turun ke lantai 1 (tempat food-court) dan masuk ke
sebuah gerai Bakso.

 

‘Gimana ceritanya?’ Tanya saya.

‘Lucuuuuu.’ Ia mengucapkan kata lucuuuuu dengan bibirnya
yang menguncup.

Saya tertawa.

‘Kok papa udah ketawa?

Kan

belum baca bukunya.’

‘Kalau menurut kamu lucu, pasti menurut papa juga lucu’

Ia kembali membaca.

 

Bakso pesanan pun datang. Kami makan bersama.

 

Rupanya the lil boy memiliki daya ingat yang cukup kuat.
Segera selesai mangkuknya tandas, ia mengingatkan saya: ‘Hurry up, Pap! I can’t
wait to fly!’

Deng..deng…kepala saya mulai pusing. Rupanya ia masih
ingat janji saya untuk membolehkan ia menaiki mini roller-coaster di lantai 2
tadi.

Ah…coba kalau saya tidak berjanji. Saya mulai mencari
alasan.

‘Tapi kita

kan

baru saja makan. Nanti muntah’

‘Gak. Kita gak akan muntah

Pa.

Ayo….’

Saya menyerah. Setelah membayar di kasir, kami pergi lagi
menuju eskalator.

 

Di arena permainan itu kami membeli tiket. Oh…sayangnya,
yang diperbolehkan naik mini roller-coaster adalah anak dibawah 12 tahun. Saya
pun memilih untuk batal membeli tiket.

 

The lil kid mulai bertanya, ‘kenapa gak jadi beli tiket?’

‘Huhm…kita gak bisa naik. Ya kakak si boleh, tapi papa gak.’

‘Why?’

‘Yang boleh naik cuma anak-anak’

‘’Yah… Kenapa?’

Kan

badan papa udah gede… nanti roller-coasternya gak mau jalan.’

‘Pulang aja yo Pap?!’

‘Kakak gak mau naik sendiri?’

‘Gak ah.. gak seru kalo gak sama papa.’

‘Papa

kan

udah pernah. Kakak gak berani sendiri ya?’

‘’Gak… Kakak berani kok sendiri. Kakak

kan

pulang sekolah sendiri.’ The lil boy
merengut.

‘Trus kenapa kakak gak mau?’

‘Waktu Mama mau pergi. Mama bilang kalo kakak mau main,
kakak harus bareng-bareng sama Papa.’

‘Pap’

‘Kalo gitu, kita pulang aja ya kak?’

‘Papa pusing ya?’

‘Ngantuk.’ Saya coba tersenyum padanya.

‘Wah, Papa capek banget ya? Mata papa berair!’ Telunjuknya
menunjuk mata saya.

Saya menatap lurus sembari menuntun tangan the lil kid. Dan
saya berusaha menahan tangis saya.

 

Mobil mulai dihidupkan. Saya berhasil mengendalikan emosi
saya, tapi tetap belum mampu menatap mata the lil kid. Saya tahu ia terus memperhatikan
saya.

‘Papa capek ya?’

‘Saya mengangguk.

‘Gara-gara kakak ajak ke toko buku ya.’

‘Enggak kak.’

‘Kakak harusnya tau kalo Papa pulang kerja pasti capek.’ Ia
mulai menyalahkan dirinya sendiri.

‘Enggak kak. Papa kekenyangan makan bakso.’ Saya berbohong.

Ia terlihat lebih tenang dan mulai membaca buku cerita
bergambarnya lagi.

 

Jalanan sudah ramai ketika kami keluar dari area parkir.
Huh….mobil berjalan dengan merayap. Entah berapa lama kami akan sampai di
rumah.

 

Jam sudah menunjukan pukul 17.40.

The lil kid, saya lihat sudah tertidur. Tangannya masih
menggenggam buku cerita bergambarnya. Pulas.

 

Kami baru sampai di depan rumah.

Ketika saya membuka sabuk pengaman, saya mulai melihat gerak
di muka the lil kid. Ah, barangkali mimpi, pikir saya. Sampai ketika dengan
mata masih terpejam, ia berkata:

‘Mama…kakak gak jadi terbang. Tapi kakak dengerin nasehat
mama. Kakak gak boleh main kalo gak sama Papa. Mama seneng

kan

?’

 

Saya tidak jadi turun dari mobil. Badan saya lemas. Pikiran
saya teringat pada kenangan lama itu. Saya teringat seseorang yang telah lama meninggalkan
saya dan the lil kid. Entah kemana.

 

Saya masih terdiam di kursi mobil. The lil kid masih
tertidur di kursinya. Saya ingin menangis tapi saya tahan. Adzan maghrib
terdengar dari kaca pintu mobil yang saya buka.

 

-ariEs-

 

Yogyakarta

, menjelang
Puasa.

Mom, I’m on TV and Kompas

August 22nd, 2006 by ariessetya

It’s weird to see my own face on TV and National Daily.

Kompasaugust30th2006

Me_on_kompas

Am I crazy coz I was laughing when my girlfriend was crying?

August 18th, 2006 by ariessetya

Am I crazy coz I was laughing when my girlfriend was crying?
Yup. I keep asking this question to myself. I don’t know what reason made me doing that (laughing). But I can’t stand.

-a confusEd boy-